Biaya logistik internasional berpotensi kembali membengkak jika ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela benar-benar meningkat hingga memicu aksi militer. Dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Amerika Latin, tetapi bisa menjalar ke rantai pasok global karena wilayah ini adalah pemasok komoditas strategis sekaligus jalur penting perdagangan dunia.
Peringatan tersebut disampaikan oleh CEO Supply Chain Indonesia (SCI) Setijadi yang menilai situasi Amerika Latin memiliki efek domino yang besar terhadap pergerakan barang lintas negara. Dalam kondisi normal pun, biaya logistik global sangat sensitif terhadap ketidakpastian geopolitik—apalagi bila menyentuh wilayah pemasok energi, pangan, dan mineral.
Mengapa ketegangan AS–Venezuela bisa berdampak global?
Amerika Latin bukan sekadar “pasar jauh” bagi banyak negara, melainkan bagian penting dari ekosistem pasok dunia. Ketika terjadi eskalasi konflik, pasar biasanya merespons dengan cepat: premi risiko naik, biaya asuransi melonjak, dan pelaku logistik melakukan penyesuaian rute maupun kapasitas. Ujungnya, ongkos angkut dan lead time (waktu tempuh) ikut terdorong naik.
Menurut Setijadi, kawasan ini berperan strategis sebagai pemasok:
- Energi (minyak dan turunannya) yang berpengaruh langsung pada harga bahan bakar dan biaya transportasi.
- Pangan yang menopang suplai global, terutama untuk komoditas pertanian tertentu.
- Mineral dan bahan baku industri yang masuk ke rantai produksi lintas negara.
Ketika pasokan dan pengiriman dari kawasan ini terganggu, efeknya bisa terasa pada harga bahan baku, biaya produksi, hingga harga barang jadi di berbagai negara.
Peran Terusan Panama: titik krusial logistik dunia
Salah satu alasan mengapa dampaknya bisa bersifat global adalah keterkaitan Amerika Latin dengan Terusan Panama. Terusan ini merupakan jalur vital yang menghubungkan arus perdagangan antara Samudra Atlantik dan Pasifik, serta mempersingkat waktu tempuh kapal dibandingkan harus memutar jauh.
Dalam situasi geopolitik yang memanas, ada beberapa risiko yang sering muncul di koridor perdagangan strategis seperti ini:
- Pengetatan keamanan yang membuat proses transit dan inspeksi lebih lama.
- Kemacetan rute akibat penyesuaian jadwal pelayaran dan penumpukan kapal.
- Kenaikan biaya karena surcharge (biaya tambahan) dari pelayaran, termasuk biaya risiko dan biaya operasional.
Walaupun ketegangan tidak selalu terjadi tepat di area terusan, pasar logistik biasanya menghitung risiko secara regional. Artinya, isu keamanan di satu wilayah dapat memicu penyesuaian biaya pada rute-rute yang terhubung.
Dampak langsung pada biaya logistik internasional
Bila konflik benar-benar meningkat, ada beberapa komponen biaya yang paling cepat terdampak:
- Freight rate (tarif angkut) naik akibat ketidakpastian kapasitas, penyesuaian rute, dan tingginya permintaan pengiriman yang “berpindah gelombang”.
- Asuransi kargo meningkat karena premi risiko perang/konflik (war risk premium).
- Biaya bahan bakar terdorong jika pasar energi ikut bergejolak, yang biasanya langsung tercermin pada bunker adjustment factor.
- Lead time makin panjang karena pelayaran menghindari titik tertentu atau memperketat prosedur operasional.
Dalam praktiknya, kenaikan biaya ini tidak berhenti di level perusahaan logistik. Importir dan eksportir akan memasukkan biaya tambahan itu ke struktur harga. Pada akhirnya, konsumen bisa ikut menanggung dampaknya melalui harga barang yang lebih mahal.
Imbasnya ke rantai pasok: bukan hanya soal pengiriman
Gejolak geopolitik juga memicu perubahan strategi perusahaan. Banyak pelaku industri akan mengamankan pasokan dengan cara memperbesar persediaan (safety stock) atau melakukan pembelian lebih awal. Strategi ini memang mengurangi risiko stok kosong, tetapi sering membuat biaya gudang dan modal kerja meningkat.
Selain itu, ketika rute tertentu menjadi tidak pasti, perusahaan bisa mencari alternatif pemasok atau memindahkan sebagian produksi. Proses diversifikasi ini membutuhkan waktu, audit kualitas, renegosiasi kontrak, hingga penyesuaian standar—yang semuanya menambah biaya tidak langsung.
Apa yang bisa dilakukan pelaku usaha?
Untuk menghadapi risiko kenaikan biaya logistik internasional akibat konflik geopolitik, pelaku usaha dapat menyiapkan langkah mitigasi yang realistis, seperti:
- Memantau perkembangan geopolitik dan kebijakan pelayaran secara berkala, bukan menunggu sampai terjadi gangguan.
- Mengamankan kontrak logistik dengan klausul fleksibilitas (misalnya opsi reroute dan penyesuaian jadwal).
- Diversifikasi rute dan pemasok untuk mengurangi ketergantungan pada satu koridor atau satu sumber bahan baku.
- Evaluasi ulang safety stock agar cukup aman tanpa membebani biaya simpan secara berlebihan.
Kesimpulan
Ancaman eskalasi antara AS dan Venezuela bukan isu regional semata. Dengan posisi strategis Amerika Latin sebagai pemasok komoditas penting dan kedekatannya dengan jalur perdagangan utama seperti Terusan Panama, situasi ini berpotensi mendorong biaya logistik internasional naik melalui berbagai jalur: tarif angkut, asuransi, bahan bakar, hingga keterlambatan pengiriman.
Bagi pelaku bisnis, kuncinya adalah kesiapan: memetakan risiko, menyiapkan alternatif, dan menjaga kelincahan rantai pasok agar tidak terpukul saat biaya logistik global kembali bergejolak.

