Sepatu Hak Tinggi Pertama: Jejak Louis XIV Sang Raja

Sepatu Hak Tinggi Pertama: Jejak Louis XIV Sang Raja

Sepatu hak tinggi pertama ternyata bukan dipakai oleh perempuan, apalagi sekadar ikon mode modern. Sejarahnya justru mengarah pada seorang pria—bahkan seorang raja—yakni Louis XIV dari Prancis. Fakta ini sering membuat orang terkejut, karena selama ini hak tinggi identik dengan feminitas dan fashion perempuan.

Pertanyaan sederhana seperti, “Siapa orang pertama yang memakai sepatu hak tinggi?” memang mudah memancing asumsi. Banyak orang membayangkan sosok perempuan paling modis di masanya sebagai pelopor. Namun, ketika kita menelusuri jejak sejarah, kisahnya jauh lebih politis, simbolis, dan terkait dengan kekuasaan.

Siapa Louis XIV dan mengapa ia penting?

Louis XIV dikenal sebagai Raja Prancis yang memerintah sangat lama dan dijuluki Raja Matahari. Ia adalah simbol absolutisme, kemegahan istana, dan kontrol politik yang kuat. Dalam banyak catatan, tinggi badannya sekitar 160 cm—angka yang mungkin terasa “biasa” untuk standar sekarang, tetapi dalam dunia kerajaan yang penuh kompetisi citra, penampilan adalah bahasa kekuasaan.

Bagi Louis XIV, pakaian bukan sekadar busana. Ia adalah alat komunikasi. Ia menunjukkan status, menuntut penghormatan, dan menciptakan jarak sosial yang jelas antara raja dan rakyatnya—bahkan antara raja dan para bangsawan di sekitarnya.

Hak tinggi: awalnya soal fungsi, lalu jadi simbol status

Sebelum menjadi aksesori mode, sepatu berhak punya sisi fungsional. Dalam beberapa tradisi berkuda, hak membantu kaki tetap “mengunci” pada sanggurdi, sehingga pengendara lebih stabil saat bergerak. Dari kebutuhan praktis itulah, sepatu berhak kemudian berkembang menjadi penanda kelas dan gaya.

Ketika masuk ke lingkungan istana Eropa, fungsi praktis itu berubah arah. Hak tinggi menjadi tanda bahwa pemakainya tidak perlu melakukan kerja fisik. Dengan kata lain: bila Anda bisa berjalan dengan sepatu yang tidak praktis, berarti Anda punya privilese—Anda hidup untuk tampil, bukan untuk bekerja.

Louis XIV dan sepatu hak tinggi merah yang melegenda

Louis XIV diketahui mempopulerkan sepatu hak tinggi sebagai bagian dari identitas kerajaannya. Ia kerap digambarkan mengenakan sepatu berhak dengan detail mencolok, termasuk warna merah pada bagian tertentu yang menjadi semacam “kode” status.

Dalam budaya istana, warna dan detail tertentu bukan pilihan estetika semata. Itu adalah simbol. Hak tinggi membuat postur tampak lebih tegak, memberi ilusi tubuh lebih tinggi, dan memperkuat kesan dominan saat raja hadir di ruang publik.

Hak tinggi sebagai “panggung” kekuasaan

Istana pada era Louis XIV adalah panggung besar. Setiap detail—dari mantel, wig, riasan, hingga sepatu—diatur untuk menciptakan efek psikologis. Ketika sang raja terlihat lebih tinggi, lebih berwibawa, dan lebih mencolok, pesan yang dikirim sederhana: dialah pusat semesta politik.

Kenapa hak tinggi kemudian identik dengan perempuan?

Perubahan makna sepatu hak tinggi terjadi bertahap. Dalam perkembangan sosial dan mode di Eropa, gaya berpakaian pria mengalami pergeseran menuju bentuk yang lebih “praktis” dan minimalis, sementara dunia fashion perempuan justru semakin kaya ornamen dan siluet.

Hak tinggi lalu menjadi bagian dari estetika yang menonjolkan bentuk kaki dan postur tubuh, sehingga perlahan masuk kuat ke mode perempuan. Seiring waktu, ingatan publik pun bergeser: hak tinggi dianggap “kodrat” fashion perempuan, padahal akar awalnya justru banyak dipengaruhi budaya maskulin—termasuk simbol kekuasaan.

Pelajaran menarik dari sejarah sepatu hak tinggi

Kisah sepatu hak tinggi mengingatkan kita bahwa tren tidak lahir dari ruang hampa. Mode bisa menjadi pantulan politik, ekonomi, kelas sosial, bahkan propaganda halus. Sesuatu yang hari ini kita anggap “feminin” atau “maskulin” bisa saja dahulu bermakna sebaliknya.

  • Mode adalah bahasa status: apa yang dipakai sering kali menunjukkan posisi sosial.
  • Tren bisa berganti makna: dari fungsi berkuda menjadi simbol aristokrasi, lalu ikon fashion modern.
  • Sejarah sering mematahkan asumsi: termasuk soal siapa yang “memulai” sesuatu.

Kesimpulan

Jika ada yang bertanya tentang sepatu hak tinggi pertama, jawabannya bukanlah seorang perempuan yang paling modis, melainkan seorang pria: Louis XIV, Raja Prancis. Ia mempopulerkan hak tinggi sebagai bagian dari citra kerajaan—sebuah strategi visual untuk menegaskan kewibawaan, status, dan kontrol.

Dan seperti banyak fenomena budaya lainnya, hak tinggi membuktikan satu hal: apa yang kita pakai bisa bercerita lebih banyak daripada yang kita kira.