Bawang Merah Obat Nyeri Otot, Dosen UHN Paten

Bawang Merah Obat Nyeri Otot, Dosen UHN Paten

Bawang Merah Obat Nyeri Otot: Riset Dosen UHN Berbuah Paten

Bawang merah obat nyeri otot kini bukan sekadar cerita turun-temurun. Dr. Heru Nurcahyo, dosen Program Studi D-3 Farmasi Universitas Harkat Negeri (UHN), berhasil memperoleh sertifikat Paten Sederhana atas penelitian yang mengolah bawang merah menjadi inovasi untuk membantu meredakan nyeri otot.

Kabar ini menjadi angin segar bagi dunia riset terapan di kampus, sekaligus menegaskan bahwa bahan alami yang dekat dengan keseharian masyarakat bisa dikembangkan menjadi produk kesehatan yang lebih terukur, aman, dan memiliki nilai tambah.

Apa Itu Paten Sederhana dan Kenapa Penting?

Di Indonesia, Paten Sederhana merupakan bentuk perlindungan kekayaan intelektual untuk inovasi yang bersifat praktis dan memiliki kebaruan, terutama terkait produk atau proses yang memberikan fungsi lebih efektif. Dengan kata lain, paten ini sering menjadi “jalur cepat” untuk inovasi terapan yang siap dimanfaatkan lebih luas.

Perolehan Paten Sederhana oleh Dr. Heru Nurcahyo menunjukkan bahwa penelitian yang dilakukan tidak berhenti di laboratorium, tetapi telah memenuhi unsur kebaruan dan dapat diimplementasikan sebagai solusi nyata.

  • Melindungi inovasi agar tidak mudah ditiru tanpa izin.
  • Mendorong hilirisasi riset menjadi produk yang berdampak.
  • Meningkatkan reputasi institusi dan peneliti di bidang farmasi terapan.

Dari Dapur ke Laboratorium: Potensi Bawang Merah

Bawang merah selama ini dikenal sebagai bumbu wajib dapur. Namun, dalam praktik tradisional, bawang merah juga kerap dimanfaatkan sebagai bahan gosok untuk membantu menghangatkan tubuh, meredakan pegal, atau mengurangi rasa tidak nyaman pada otot.

Yang dilakukan Dr. Heru adalah membawa pengetahuan yang dekat dengan masyarakat tersebut ke ranah akademik dan inovasi, sehingga pemanfaatannya menjadi lebih sistematis. Ketika bahan alami diolah melalui pendekatan farmasi, aspek seperti formulasi, dosis, stabilitas, dan keamanan menjadi perhatian utama.

Kenapa Nyeri Otot Jadi Target Inovasi?

Nyeri otot merupakan keluhan umum yang bisa muncul setelah aktivitas fisik berat, postur tubuh yang kurang ideal, kelelahan kerja, atau kondisi tertentu yang memicu ketegangan otot. Banyak orang mencari solusi yang praktis, aman, dan mudah digunakan—terutama untuk kebutuhan sehari-hari.

Inovasi berbahan bawang merah berpotensi mengisi kebutuhan tersebut, khususnya sebagai pilihan pendamping yang berasal dari bahan lokal dan mudah didapat.

Peran Kampus dan Prodi D-3 Farmasi UHN

Keberhasilan dosen D-3 Farmasi UHN mengantongi Paten Sederhana juga menegaskan pentingnya ekosistem kampus yang mendorong riset terapan. Program vokasi seperti D-3 Farmasi umumnya dekat dengan praktik industri dan layanan kesehatan, sehingga hasil penelitian cenderung diarahkan pada produk yang siap diuji dan digunakan.

Selain berdampak pada reputasi akademik, capaian ini berpotensi membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pelaku industri obat tradisional, UMKM kesehatan, hingga instansi layanan kesehatan yang membutuhkan inovasi berbasis bahan alam.

Arah Pengembangan: Dari Paten ke Produk Nyata

Paten adalah langkah penting, tetapi perjalanan inovasi biasanya berlanjut pada tahap pengembangan lanjutan. Dalam konteks bawang merah obat nyeri otot, tahapan berikutnya bisa mencakup penyempurnaan formulasi, uji mutu, serta proses produksi yang konsisten.

Jika diarahkan menjadi produk yang siap edar, beberapa aspek yang biasanya diperhatikan antara lain:

  • Standarisasi bahan baku agar kualitas setiap batch stabil.
  • Uji stabilitas untuk memastikan produk tidak cepat rusak dan tetap efektif.
  • Uji keamanan untuk meminimalkan risiko iritasi atau reaksi tertentu.
  • Pengemasan dan penyimpanan yang tepat agar kandungan tetap terjaga.

Dengan dukungan yang tepat, inovasi semacam ini dapat melahirkan produk kesehatan berbasis bahan alam yang memiliki identitas lokal, namun tetap memenuhi standar ilmiah.

Harapan untuk Riset Bahan Alam di Indonesia

Indonesia kaya akan sumber daya hayati yang berpotensi dikembangkan menjadi produk kesehatan. Keberhasilan Dr. Heru Nurcahyo mengamankan Paten Sederhana menjadi contoh bahwa riset tidak harus selalu berangkat dari bahan yang rumit atau mahal. Justru, bahan yang akrab seperti bawang merah bisa menjadi pintu masuk inovasi besar ketika diolah dengan metodologi yang tepat.

Ke depan, publik tentu menantikan kelanjutan pengembangan inovasi ini, termasuk peluang kolaborasi dan pemanfaatannya di masyarakat. Yang jelas, capaian ini menambah daftar bukti bahwa riset kampus mampu menghadirkan solusi nyata—dari yang sederhana, untuk kebutuhan yang dekat dengan keseharian.