Biorefinery Cilacap Ubah Jelantah Jadi Bioavtur

Biorefinery Cilacap Ubah Jelantah Jadi Bioavtur

Biorefinery Cilacap menjadi salah satu langkah penting Pertamina dalam mendukung transisi energi dan target swasembada energi nasional. Lewat pengembangan fasilitas pengolahan berbasis kilang (biorefinery), bahan yang selama ini dianggap limbah—seperti minyak jelantah—diolah menjadi produk bernilai tinggi, termasuk bioavtur yang lebih ramah lingkungan untuk sektor penerbangan.

Inisiatif ini menarik perhatian karena menyentuh dua isu sekaligus: persoalan pengelolaan limbah rumah tangga/UMKM dan kebutuhan energi bersih di Indonesia. Ketika jelantah yang kerap berakhir mencemari lingkungan bisa diserap menjadi bahan baku energi, rantai pasok energi menjadi lebih berkelanjutan dan memberi dampak ekonomi yang lebih luas.

Apa itu Biorefinery dan mengapa Cilacap strategis?

Biorefinery adalah konsep pengolahan bahan baku terbarukan (biomassa) menjadi berbagai produk energi maupun kimia, mirip dengan kilang minyak tetapi memakai sumber yang lebih hijau. Dalam konteks Cilacap, pendekatan ini memanfaatkan infrastruktur pengolahan yang sudah kuat, jaringan logistik yang mapan, serta kedekatan dengan pusat aktivitas industri dan distribusi energi.

Cilacap sendiri dikenal sebagai salah satu titik penting ekosistem perkilangan. Ketika fasilitas biorefinery dikembangkan di kawasan ini, proses hilirisasi bahan baku nabati maupun limbah minyak goreng bisa dilakukan lebih efisien, sekaligus mempercepat produksi bahan bakar beremisi lebih rendah.

Dari jelantah ke bioavtur: bagaimana alurnya?

Minyak jelantah memiliki karakteristik yang berbeda-beda tergantung sumbernya—mulai dari rumah tangga, restoran, hingga pelaku usaha kuliner. Agar aman dan memenuhi spesifikasi, jelantah perlu melalui tahapan pengumpulan, penyaringan, dan pemurnian awal sebelum masuk proses lanjutan di fasilitas pengolahan.

Tahapan umum yang biasanya dilakukan

  • Pengumpulan (collection): jelantah dihimpun dari masyarakat, UMKM, dan jaringan komersial.
  • Pra-pengolahan: penyaringan kotoran, pengurangan kadar air, dan stabilisasi kualitas.
  • Konversi di biorefinery: pengolahan lanjutan untuk menghasilkan komponen bahan bakar terbarukan.
  • Quality control: produk diuji agar sesuai standar, terutama jika ditujukan untuk aviasi.

Bioavtur (sustainable aviation fuel/SAF) menjadi fokus karena sektor penerbangan termasuk yang paling menantang untuk didekarbonisasi. Tidak semua moda bisa dengan cepat beralih ke listrik, sehingga bahan bakar alternatif berkelanjutan dipandang sebagai jembatan transisi yang realistis.

Manfaat langsung: lingkungan, ekonomi, dan ketahanan energi

Program pengolahan jelantah menjadi bioavtur bukan sekadar proyek teknologi, tetapi juga punya dampak nyata di lapangan. Indonesia memiliki konsumsi minyak goreng yang besar, yang berarti potensi jelantah juga tinggi. Bila dikelola dengan baik, itu menjadi sumber bahan baku domestik yang dapat mengurangi ketergantungan pada impor komponen energi tertentu.

Dampak positif yang bisa dirasakan

  • Pengurangan limbah: jelantah yang dibuang sembarangan bisa mencemari tanah dan air; pengumpulan terstruktur membantu menekan risiko ini.
  • Nilai ekonomi baru: jelantah yang sebelumnya tak bernilai dapat menjadi komoditas yang dibeli, membuka peluang pendapatan bagi masyarakat dan UMKM.
  • Dukungan transisi energi: bioavtur membantu menurunkan jejak karbon sektor penerbangan secara bertahap.
  • Ketahanan energi: pemanfaatan bahan baku lokal memperkuat kemandirian energi nasional.

Peran Pertamina dalam transisi energi

Pengembangan biorefinery di Cilacap memperlihatkan arah transformasi industri energi: dari dominasi fosil menuju bauran yang lebih bersih, tanpa mengabaikan kebutuhan pasokan yang stabil. Pertamina, sebagai pemain utama energi nasional, mendorong inovasi melalui pengembangan kilang hijau, peningkatan efisiensi, dan diversifikasi produk energi.

Di sisi lain, proyek seperti ini juga membutuhkan sinergi lintas pihak: pemerintah untuk dukungan kebijakan dan standar, pelaku usaha untuk membangun rantai pasok jelantah yang tertib, serta masyarakat agar mau memilah dan menyalurkan jelantah ke jalur resmi.

Tantangan: pasokan jelantah dan konsistensi kualitas

Meski potensinya besar, rantai pasok jelantah tidak otomatis rapi. Tantangan umumnya berkisar pada ketersediaan volume yang stabil, persebaran sumber yang luas, hingga praktik penggunaan ulang jelantah yang masih terjadi di sebagian tempat. Konsistensi kualitas bahan baku juga menjadi kunci agar proses produksi efisien dan hasil akhirnya memenuhi spesifikasi.

Karena itu, edukasi pengumpulan jelantah, kemitraan dengan jaringan pengumpul, serta sistem insentif yang menarik menjadi faktor penentu keberhasilan. Semakin kuat ekosistemnya, semakin besar peluang bioavtur berbasis limbah menjadi bagian nyata dari pasokan energi nasional.

Menuju “langit biru” Indonesia

Biorefinery Cilacap yang mengolah jelantah menjadi bioavtur menggambarkan bagaimana inovasi bisa lahir dari persoalan sehari-hari. Dari dapur rumah, warung makan, hingga restoran besar, limbah minyak goreng bisa ditransformasikan menjadi energi yang mendukung mobilitas dan pertumbuhan ekonomi—dengan dampak lingkungan yang lebih baik.

Jika ekosistem pengumpulan jelantah semakin matang dan kapasitas produksi terus meningkat, Indonesia punya peluang besar untuk memperkuat kemandirian energi sekaligus mempercepat agenda transisi energi. Pada akhirnya, “langit biru” bukan sekadar slogan, melainkan target yang bisa dikejar melalui langkah konkret seperti biorefinery.