Dua Orang Pengemis menjadi kisah sederhana yang sering membuat orang berhenti sejenak: apakah kita memberi karena tulus, atau karena ingin dipuji? Dan apakah orang yang menerima bantuan selalu harus “membalas” dengan kata-kata manis?
Ceritanya bermula di sebuah lingkungan yang tenang. Setiap hari, pada jam yang sama, dua pengemis berjalan melewati rumah seorang kaya. Sang pemilik rumah dikenal dermawan—atau setidaknya terlihat demikian—karena ia selalu melemparkan beberapa keping uang kepada mereka. Rutinitas itu seperti jam kerja: pengemis datang, uang dilempar, lalu mereka melanjutkan langkah.
Namun ada satu hal yang menarik perhatian. Pengemis pertama bertubuh lebih tinggi dan besar. Setiap kali menerima uang, ia akan berteriak lantang dengan penuh semangat, “Terima kasih, Tuan! Anda benar-benar berhati mulia, suka berbuat kebajikan. Semoga Anda panjang umur, sehat selalu!”
Pengemis kedua berbeda. Ia lebih pendiam. Ia menerima uang dengan tenang, mengangguk singkat, kadang hanya mengucap “Terima kasih,” lalu pergi tanpa banyak kata. Tidak ada pujian panjang, tidak ada doa yang diucapkan dengan suara keras.
Perbedaan Sikap yang Mengundang Pertanyaan
Dari luar, reaksi pengemis pertama tampak “lebih sopan” dan “lebih tahu diri”. Sementara yang kedua bisa saja dinilai dingin, bahkan dianggap tidak berterima kasih. Tetapi kisah seperti ini biasanya menyimpan lapisan makna yang lebih dalam daripada sekadar etika menerima sedekah.
Suatu hari, sang orang kaya mulai memperhatikan pola tersebut. Ia mendengar pujian dan doa yang selalu dilontarkan pengemis tinggi. Di saat yang sama, ia juga melihat pengemis pendiam yang seolah tidak memberi “penghargaan” yang setara.
Di titik ini, perasaan manusiawi bisa muncul: “Kenapa yang satu begitu ramah, yang satu lagi seperti tidak menghargai?” Apalagi jika memberi sudah menjadi kebiasaan harian, bukan sekali dua kali.
Menguji Makna Memberi: Tulus atau Ingin Diakui?
Kisah Dua Orang Pengemis kerap ditafsirkan sebagai cermin bagi pemberi. Ketika seseorang memberi, ada dua kemungkinan motivasi yang sering bercampur:
- Tulus membantu, karena memang ingin meringankan beban orang lain.
- Ingin pengakuan, baik berupa pujian, rasa dihormati, atau citra sebagai orang baik.
Tidak ada manusia yang sepenuhnya steril dari kebutuhan dihargai. Tetapi masalahnya muncul saat pujian menjadi “syarat tak tertulis” dalam memberi. Jika bantuan hanya mengalir kepada mereka yang pandai membalas dengan sanjungan, maka memberi berubah menjadi transaksi sosial: uang ditukar dengan perasaan superior.
Pujian yang Terdengar Indah, Tapi Bisa Jadi Strategi Bertahan
Di sisi lain, pengemis yang lantang memuji bisa jadi bukan sekadar sopan—mungkin itu adalah strategi agar bantuan terus mengalir. Ia belajar bahwa kata-kata manis dapat membuka lebih banyak pintu. Dalam kondisi terdesak, manusia bisa mengasah “keterampilan sosial” untuk bertahan hidup, termasuk memuji berlebihan.
Pertanyaannya: apakah ucapan itu benar-benar lahir dari hati? Atau hanya cara untuk mengamankan recehan berikutnya?
Diam Bukan Berarti Tidak Bersyukur
Sementara itu, pengemis pendiam juga tidak otomatis buruk. Bisa jadi ia menyimpan harga diri, atau ia percaya bahwa rasa terima kasih tidak harus dipertontonkan. Ada orang yang memilih bersyukur dalam bentuk yang lebih senyap—mengangguk, menerima, lalu melanjutkan hidup tanpa drama.
Bahkan mungkin ia punya prinsip: bantuan adalah bantuan, dan ia tidak ingin mengemis dengan “membeli simpati” lewat pujian yang dibuat-buat.
Pelajaran Moral dari Kisah Dua Orang Pengemis
Apa pun kelanjutan detail ceritanya, inti pelajaran yang sering ditarik dari kisah ini biasanya berkisar pada tiga hal berikut:
- Jangan ukur kebaikan dari respons penerima. Ada yang ekspresif, ada yang pendiam. Keduanya bisa sama-sama berterima kasih.
- Memberi seharusnya tidak menuntut balasan emosional. Jika memberi mengharapkan pujian, itu mendekati “membeli penghormatan”.
- Ucapan manis tidak selalu mencerminkan ketulusan. Pujian bisa tulus, bisa juga taktik.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering bertemu situasi serupa—bukan hanya soal sedekah, tetapi juga bantuan di kantor, pertolongan kepada teman, atau dukungan kepada keluarga. Kadang yang paling berisik mengucap terima kasih justru bukan yang paling menghargai, dan yang paling diam justru menyimpan rasa hormat yang dalam.
Penutup
Kisah Dua Orang Pengemis mengajak kita untuk melihat tindakan memberi dan menerima dengan sudut pandang yang lebih dewasa. Jika kita memilih untuk berbuat baik, lakukanlah tanpa menimbang seberapa meriahnya ucapan terima kasih yang akan kita terima. Sebab kebaikan yang paling kuat biasanya tidak butuh panggung—cukup dilakukan, lalu selesai.

