Listrik dari Sampah: Zulhas Percepat 5 Proyek ASRI

Listrik dari Sampah: Zulhas Percepat 5 Proyek ASRI

Listrik dari sampah kembali jadi sorotan setelah Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mendorong percepatan lima proyek pengolahan sampah menjadi energi. Langkah ini disebut sejalan dengan dukungan pemerintah terhadap Gerakan ASRI, sebuah gerakan yang menekankan perubahan perilaku, pengurangan sampah dari sumber, serta penguatan ekosistem pengelolaan sampah yang lebih rapi dan berkelanjutan.

Di banyak kota, persoalan sampah sudah berada di level darurat: volume meningkat, lahan TPA makin terbatas, dan keluhan warga soal bau, lindi, serta pencemaran kian sering terdengar. Karena itu, pendekatan “angkut–buang” tidak lagi cukup. Pemerintah mulai mengarahkan solusi yang lebih komprehensif, salah satunya melalui fasilitas pengolahan sampah yang mampu menghasilkan energi listrik.

Percepatan 5 proyek: apa yang ingin dicapai?

Percepatan lima proyek ini pada dasarnya menargetkan dua hal besar: menurunkan beban TPA sekaligus menambah pasokan energi. Pengolahan sampah menjadi listrik bukan hanya urusan teknis, melainkan juga soal tata kelola—mulai dari kepastian pasokan sampah, kemitraan dengan pemerintah daerah, kesiapan infrastruktur, sampai skema pembiayaan dan penyerapan listrik.

Dalam praktiknya, proyek-proyek semacam ini membutuhkan koordinasi lintas sektor. Di sinilah peran Menko menjadi penting: mempertemukan kepentingan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga komunitas, agar implementasi tidak tersendat di tengah jalan.

Kaitan proyek listrik dari sampah dengan Gerakan ASRI

Dukungan terhadap Gerakan ASRI memperlihatkan bahwa percepatan proyek tidak berdiri sendiri. Pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi tetap membutuhkan “hulu” yang tertib: pemilahan dari rumah tangga, pengurangan sampah plastik sekali pakai, serta sistem pengumpulan yang konsisten.

Gerakan seperti ASRI biasanya menekankan bahwa persoalan sampah tidak bisa diselesaikan hanya dengan teknologi. Tanpa partisipasi warga dan sistem yang disiplin, fasilitas secanggih apa pun bisa kewalahan: sampah tercampur, nilai kalor rendah, atau justru banyak material yang seharusnya didaur ulang ikut terbakar/terolah.

Kenapa pemilahan sampah tetap penting?

Meski tujuan akhirnya adalah produksi energi, pemilahan tetap krusial untuk:

  • Memisahkan material bernilai daur ulang (kertas, logam, plastik tertentu) agar tidak terbuang sia-sia.
  • Mengurangi kontaminasi sampah organik dan memperbaiki kualitas bahan baku pengolahan.
  • Menekan biaya operasi fasilitas karena beban residu bisa dikendalikan.

Bagaimana sampah bisa jadi listrik?

Secara umum, listrik dari sampah dihasilkan lewat beberapa pendekatan, tergantung jenis fasilitas dan karakter sampah setempat. Ada yang memanfaatkan proses termal (misalnya insinerasi dengan pengendalian emisi) untuk menghasilkan uap dan menggerakkan turbin. Ada juga yang memanfaatkan gas dari proses biologis (misalnya biogas) atau gas landfill yang kemudian dikonversi menjadi energi.

Namun apa pun teknologinya, kunci keberhasilan tetap sama: pasokan sampah harus stabil, kualitasnya konsisten, dan pengendalian dampak lingkungan dilakukan ketat. Tanpa tiga hal itu, proyek rentan menuai penolakan publik atau tidak ekonomis.

Manfaat yang diharapkan: lingkungan, energi, dan ekonomi lokal

Jika dikelola benar, proyek pengolahan sampah menjadi listrik bisa memberi manfaat berlapis:

  • Pengurangan volume sampah ke TPA sehingga umur TPA lebih panjang dan tekanan lahan berkurang.
  • Pasokan energi alternatif yang dapat membantu sistem kelistrikan, terutama di area padat.
  • Peluang kerja dan ekonomi dari rantai pengelolaan sampah: pemilahan, pengangkutan, pengolahan, hingga perawatan fasilitas.
  • Perbaikan kesehatan lingkungan jika bau, lindi, dan pembakaran terbuka dapat ditekan.

Tantangan yang perlu dibereskan

Di lapangan, proyek listrik dari sampah sering menghadapi tantangan klasik. Pertama, soal kesiapan daerah: sistem pengumpulan dan pemilahan belum merata. Kedua, kepastian regulasi dan skema kerja sama—mulai dari kontrak pasokan sampah, tipping fee, hingga penjualan listrik. Ketiga, isu penerimaan masyarakat yang menuntut transparansi, terutama terkait standar emisi dan dampak lingkungan.

Karena itulah percepatan bukan hanya soal mempercepat konstruksi. Yang tak kalah penting adalah mempercepat “kesiapan ekosistemnya”: SOP, edukasi publik, penguatan bank sampah/daur ulang, dan pengawasan lingkungan.

Apa yang bisa dilakukan warga dan pemerintah daerah?

Meski proyeknya skala besar, kontribusi warga justru dimulai dari hal kecil yang konsisten. Pemerintah daerah juga memegang peran penting untuk memastikan rantai pengelolaan sampah berjalan dari hulu hingga hilir.

Langkah praktis yang bisa segera diterapkan

  • Pilah sampah dari rumah: organik, anorganik, dan residu.
  • Kurangi sampah sekali pakai dengan membawa wadah dan tas belanja sendiri.
  • Salurkan anorganik bernilai ke bank sampah/pengepul agar masuk jalur daur ulang.
  • Dukung kebijakan daerah terkait pengurangan sampah dan disiplin buang sampah pada tempatnya.

Kesimpulan

Percepatan lima proyek listrik dari sampah yang didorong Menko Pangan Zulkifli Hasan menjadi sinyal bahwa pemerintah ingin menggabungkan solusi lingkungan dan energi secara lebih serius. Namun keberhasilan tetap bergantung pada kesiapan tata kelola, kedisiplinan pemilahan dari sumber, serta keterlibatan masyarakat—selaras dengan semangat Gerakan ASRI. Jika ekosistemnya dibangun bersama, sampah tidak lagi sekadar masalah, melainkan sumber daya yang bisa memberi manfaat nyata.