Makanan penyebab alergi kambuh kerap tidak disadari karena gejalanya bisa muncul bertahap, dari gatal ringan, bentol-bentol, hingga sesak napas. Alergi sendiri merupakan salah satu masalah kesehatan yang bisa menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Karena itu, mengenali pemicu dari makanan tertentu adalah langkah penting agar keluhan tidak berulang.
Secara umum, alergi makanan terjadi ketika sistem imun menganggap protein tertentu sebagai “ancaman” dan memicu reaksi berlebihan. Pada sebagian orang, reaksi bisa muncul cepat setelah makan, sementara pada yang lain dapat tertunda beberapa jam. Yang sering membuat bingung, makanan pemicunya terlihat “biasa”, padahal termasuk kelompok alergen paling sering di dunia.
Kenapa alergi bisa kambuh setelah makan?
Kambuhnya alergi setelah mengonsumsi makanan tertentu biasanya terkait dua hal: paparan alergen (protein pemicu) dan kondisi tubuh saat itu. Misalnya, saat sedang kurang tidur, stres, setelah olahraga berat, atau ketika daya tahan tubuh menurun, ambang reaksi alergi bisa lebih sensitif. Akibatnya, makanan yang sebelumnya masih “aman”, tiba-tiba memicu keluhan.
Selain itu, ada juga faktor cross-reactivity (reaksi silang), yaitu saat tubuh bereaksi terhadap makanan tertentu karena mirip dengan alergen lain, misalnya serbuk sari, lateks, atau tungau debu. Inilah sebabnya beberapa orang mengalami gatal di mulut setelah makan buah tertentu, padahal sebelumnya tidak pernah bermasalah.
4 makanan penyebab alergi kambuh yang perlu diwaspadai
Berikut beberapa makanan yang paling sering dilaporkan memicu kekambuhan alergi. Penting dicatat: pemicu setiap orang bisa berbeda. Namun daftar ini dapat menjadi referensi awal untuk lebih waspada.
1) Telur
Telur—terutama protein pada putih telur—termasuk pemicu alergi yang cukup umum. Gejala bisa berupa gatal-gatal, biduran, mual, muntah, pilek, hingga sesak. Telur juga sering “tersembunyi” dalam berbagai makanan olahan, seperti kue, roti, mayones, saus, dan processed food.
Jika Anda curiga alergi telur, periksa label bahan dengan teliti. Beberapa istilah yang bisa mengindikasikan kandungan telur antara lain albumin, ovalbumin, atau lecithin (tergantung sumbernya).
2) Susu sapi dan produk olahannya
Alergi susu sapi berbeda dengan intoleransi laktosa. Pada alergi susu, sistem imun bereaksi terhadap protein susu seperti kasein atau whey. Keluhan bisa muncul di kulit (ruam, gatal), saluran cerna (kembung, diare, muntah), atau pernapasan.
Produk yang perlu diwaspadai bukan hanya susu cair, tetapi juga keju, mentega, krim, yogurt, serta makanan yang menggunakan whey/kasein sebagai bahan tambahan. Sebagian orang merasa gejalanya “kambuh-kambuhan” karena tidak menyadari adanya susu dalam makanan kemasan.
3) Kacang-kacangan (terutama kacang tanah dan tree nuts)
Kacang tanah termasuk salah satu alergen kuat yang dapat memicu reaksi berat pada sebagian orang. Selain kacang tanah, kelompok tree nuts seperti almond, mete, kenari, dan hazelnut juga sering menjadi pemicu. Pada kasus tertentu, reaksi bisa berkembang menjadi anafilaksis, kondisi darurat medis yang perlu penanganan segera.
Yang menantang, kacang sering muncul sebagai bahan campuran pada cokelat, biskuit, granola, selai, hingga makanan restoran yang dimasak dengan minyak tertentu. Kontaminasi silang di dapur juga bisa memicu kekambuhan.
4) Seafood (udang, kepiting, kerang, ikan tertentu)
Seafood termasuk pemicu alergi yang cukup sering, terutama udang, kepiting, lobster, serta kerang-kerangan. Pada beberapa orang, aroma atau uap masakan seafood pun dapat memicu gejala, meski tidak ikut memakannya.
Waspadai juga saus dan kaldu yang berbahan dasar seafood, misalnya pasta udang, terasi, atau kaldu ikan. Jika Anda punya riwayat alergi seafood, sebaiknya konfirmasi komposisi makanan saat makan di luar.
Gejala alergi makanan yang perlu dikenali
Reaksi alergi dapat bervariasi dari ringan sampai berat. Beberapa gejala yang umum meliputi:
- Gatal-gatal, biduran, atau ruam kemerahan
- Bibir, kelopak mata, atau wajah bengkak
- Hidung meler, bersin, batuk
- Mual, muntah, sakit perut, diare
- Sesak napas, mengi, dada terasa berat
- Pusing, lemas, hingga penurunan kesadaran (darurat)
Tips mencegah alergi kambuh akibat makanan
Jika Anda sering mengalami keluhan setelah makan, langkah-langkah berikut bisa membantu mengurangi risiko kekambuhan:
- Catat pemicu lewat food diary: tulis makanan, jam makan, dan gejala yang muncul.
- Baca label makanan kemasan, termasuk bahan turunan (misalnya whey/kasein pada susu).
- Waspadai kontaminasi silang saat memasak atau makan di luar.
- Konsultasi ke dokter untuk tes alergi jika keluhan berulang atau makin berat.
- Siapkan rencana darurat bila pernah mengalami reaksi berat (misalnya anafilaksis) sesuai anjuran dokter.
Kapan harus segera ke dokter?
Segera cari pertolongan medis jika setelah makan Anda mengalami sesak napas, bengkak pada wajah/bibir/ lidah, suara serak, atau pusing berat. Gejala tersebut bisa mengarah ke reaksi alergi berat yang tidak boleh ditangani sendiri di rumah.
Intinya, mengenali makanan penyebab alergi kambuh adalah kunci untuk mencegah keluhan berulang. Dengan lebih teliti memilih makanan, memeriksa label, dan berkonsultasi bila perlu, Anda bisa tetap menikmati aktivitas sehari-hari tanpa khawatir alergi datang tiba-tiba.

