Manfaat Baking Soda untuk Kesehatan & Dosis Aman

Manfaat Baking Soda untuk Kesehatan & Dosis Aman

Manfaat baking soda untuk kesehatan sering dibicarakan, mulai dari meredakan keluhan asam lambung sampai membantu performa olahraga. Namun, karena baking soda (sodium bikarbonat) juga mengandung natrium tinggi dan memengaruhi keseimbangan asam-basa tubuh, penggunaannya perlu tepat dosis dan tidak boleh sembarangan. Artikel ini mengulas manfaat yang didukung bukti medis, cara pakai yang lebih aman, serta risiko dan siapa saja yang sebaiknya menghindarinya.

Apa itu baking soda (sodium bikarbonat)?

Baking soda adalah senyawa alkali yang biasa dipakai untuk mengembangkan adonan kue. Dalam dunia medis, sodium bikarbonat juga digunakan sebagai antasida (penetral asam) dan pada kondisi tertentu di rumah sakit untuk membantu mengoreksi gangguan asam-basa. Karena sifatnya yang menetralkan asam, baking soda kerap dipakai sebagai “obat rumahan” untuk beberapa keluhan, terutama terkait lambung.

Manfaat baking soda untuk kesehatan yang didukung bukti

1) Membantu meredakan gejala asam lambung (heartburn) sementara

Baking soda dapat menetralkan asam lambung sehingga keluhan seperti perih di ulu hati, rasa panas di dada, atau asam naik bisa mereda untuk sementara. Efeknya cenderung cepat, tetapi tidak mengatasi penyebab utama GERD dan tidak cocok untuk penggunaan jangka panjang.

Jika keluhan asam lambung sering kambuh (lebih dari 2 kali seminggu), sebaiknya evaluasi ke dokter karena bisa memerlukan penanganan lain seperti perubahan pola makan, obat penurun asam (misalnya PPI/H2 blocker), atau pemeriksaan lebih lanjut.

2) Mendukung performa olahraga intensitas tinggi (sebagai penyangga asam)

Dalam olahraga intensitas tinggi, tubuh menghasilkan ion hidrogen yang berkontribusi pada rasa “panas” dan cepat lelah di otot. Sodium bikarbonat dapat bertindak sebagai buffer (penyangga) yang membantu menetralkan kondisi asam tersebut, sehingga pada sebagian orang dapat meningkatkan performa pada aktivitas singkat-intens (misalnya sprint, interval, atau angkat beban dengan repetisi tinggi).

Catatan penting: manfaat ini biasanya terkait protokol dosis tertentu dan sering menimbulkan efek samping pencernaan (mual, kembung, diare). Jadi, tidak disarankan mencoba tanpa memahami risikonya—terutama jika punya riwayat penyakit tertentu.

3) Membantu menjaga kebersihan mulut (penggunaan topikal yang tepat)

Baking soda bersifat abrasif ringan dan dapat membantu mengurangi bau mulut serta mengangkat noda permukaan pada gigi bila digunakan dengan benar. Beberapa pasta gigi juga memasukkan baking soda sebagai bahan aktif.

Namun, penggunaan baking soda murni terlalu sering atau dengan cara menggosok keras berisiko mengikis enamel. Lebih aman memilih pasta gigi berfluoride yang formulanya seimbang, dan konsultasi ke dokter gigi jika ingin pemutih gigi yang aman.

4) Membantu beberapa kondisi kulit tertentu (penggunaan terbatas)

Secara tradisional, baking soda sering dipakai untuk meredakan gatal ringan. Namun bukti ilmiah untuk penggunaan kulit masih terbatas dan hasilnya bervariasi. Pada sebagian orang, baking soda justru dapat mengiritasi kulit karena mengubah pH alami kulit.

Jika kulit sensitif, eksim, atau mudah iritasi, sebaiknya hindari eksperimen topikal dan pilih produk yang direkomendasikan dokter.

Panduan dosis aman dan cara penggunaan

Keamanan baking soda sangat bergantung pada dosis, kondisi kesehatan, dan obat yang sedang dikonsumsi. Berikut panduan umum yang sering digunakan, tetapi bukan pengganti saran medis.

Untuk keluhan asam lambung sesekali

  • Cara pakai: larutkan baking soda dalam air putih dan diminum.
  • Prinsip aman: gunakan sesekali, bukan setiap hari.
  • Jangan digunakan terus-menerus untuk keluhan berulang tanpa evaluasi medis.

Hindari mengonsumsi dalam keadaan perut sangat penuh karena pembentukan gas dapat meningkatkan rasa tidak nyaman.

Untuk tujuan olahraga (ergogenic aid)

  • Umumnya menggunakan protokol berbasis berat badan dan waktu konsumsi sebelum latihan.
  • Risiko paling sering: gangguan pencernaan (kembung, diare, mual).
  • Saran: konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi olahraga, dan jangan mencoba menjelang kompetisi tanpa uji coba bertahap.

Risiko dan efek samping yang perlu diwaspadai

Meski mudah didapat, baking soda bukan tanpa risiko. Efek samping yang dapat terjadi antara lain:

  • Kadar natrium meningkat (retensi cairan), yang bisa memperburuk tekanan darah tinggi atau gagal jantung.
  • Alkalosis metabolik (darah terlalu basa) bila berlebihan, yang dapat memicu lemah, kram, mual, kebingungan, bahkan gangguan irama jantung pada kasus berat.
  • Gangguan pencernaan: kembung, sendawa, mual, muntah, diare.
  • Interaksi obat: perubahan pH lambung/urin dapat memengaruhi penyerapan atau efek beberapa obat.

Siapa yang sebaiknya menghindari baking soda?

Lebih aman tidak menggunakan baking soda (atau konsultasi dulu) bila Anda memiliki kondisi berikut:

  • Hipertensi (tekanan darah tinggi) atau sedang menjalani diet rendah natrium.
  • Penyakit ginjal atau riwayat gangguan elektrolit.
  • Gagal jantung, edema, atau mudah bengkak.
  • Sedang hamil/menyusui (perlu pertimbangan dokter).
  • GERD kronis, maag sering kambuh, atau nyeri ulu hati menetap.
  • Sedang mengonsumsi obat rutin (misalnya diuretik, obat jantung, litium, dan obat lain tertentu).

Kapan harus segera ke dokter?

Jangan tunda pemeriksaan bila Anda mengalami:

  • Nyeri dada, sesak, atau nyeri menjalar ke lengan/rahang.
  • Muntah darah, BAB hitam, atau penurunan berat badan tanpa sebab.
  • Heartburn lebih dari 2 kali seminggu atau tidak membaik dengan perubahan gaya hidup.
  • Gejala setelah konsumsi baking soda seperti pusing berat, lemas ekstrem, bengkak, atau detak jantung tidak teratur.

Kesimpulan

Manfaat baking soda untuk kesehatan memang ada, terutama untuk meredakan asam lambung sesekali dan sebagai pendukung performa pada olahraga intensitas tinggi pada kondisi tertentu. Namun, baking soda bukan solusi jangka panjang dan dapat menimbulkan efek samping serius bila digunakan berlebihan atau pada orang dengan kondisi medis tertentu. Gunakan seperlunya, pahami risikonya, dan konsultasikan ke tenaga kesehatan jika keluhan sering berulang.