Musikal Perahu Kertas resmi dibuka di Ciputra Artpreneur, Jakarta, pada Selasa (3/2) malam. Pembukaan pertunjukan ini terasa spesial karena Dee Lestari—penulis yang melahirkan kisah Perahu Kertas—turut hadir dan menyanyikan lagu “Perahu Kertas” di hadapan penonton. Momen itu menjadi semacam salam pembuka yang hangat, sekaligus pengingat bahwa karya ini berangkat dari cerita yang dekat dengan banyak orang.
Pertunjukan musikal ini menjadi bagian dari rangkaian pementasan yang disiapkan untuk membawa dunia Keenan dan Kugy ke panggung dengan cara yang berbeda. Jika sebelumnya publik menikmati kisah Perahu Kertas melalui novel dan film, versi musikal menawarkan pengalaman yang lebih hidup: emosi, dialog, dan konflik terasa langsung karena disampaikan melalui suara, gerak, dan tata panggung.
Malam pembukaan yang emosional
Atmosfer Ciputra Artpreneur pada malam pembukaan dipenuhi rasa antusias. Penonton datang dengan ekspektasi tinggi—tak sedikit yang sudah mengikuti perjalanan Perahu Kertas sejak pertama kali terbit sebagai novel. Ketika Dee Lestari menyanyikan lagu “Perahu Kertas”, suasana ruangan seperti ditarik ke satu titik: nostalgia, haru, dan rasa penasaran tentang bagaimana kisah ini diterjemahkan menjadi pertunjukan musikal.
Bagi penggemar setia, kehadiran Dee bukan sekadar formalitas seremoni pembukaan. Ia menjadi jembatan antara karya asli dengan adaptasinya di panggung, seakan memberi restu sekaligus mengajak penonton menikmati tafsir baru yang lahir dari kolaborasi banyak seniman.
Dari novel ke panggung: adaptasi yang menantang
Mengubah sebuah cerita populer menjadi musikal bukan pekerjaan sederhana. Cerita yang awalnya dinikmati lewat narasi panjang harus dipadatkan menjadi adegan-adegan panggung yang efektif, namun tetap mempertahankan jiwa karakter dan dinamika hubungan mereka. Tantangannya ada pada ritme: kapan harus “bercerita” lewat dialog, dan kapan membiarkan lagu mengambil alih untuk menyampaikan emosi yang lebih dalam.
Dalam musikal, lagu bukan sekadar selingan. Lagu menjadi alat dramatik—mendorong cerita maju, mempertegas konflik, atau menyorot pergulatan batin tokoh. Karena itu, adaptasi musikal Perahu Kertas dituntut untuk tetap setia pada rasa cerita, sekaligus berani menawarkan bentuk penyampaian yang baru.
Menghidupkan Keenan dan Kugy dengan cara berbeda
Karakter Keenan dan Kugy dikenal karena “kekacauan” yang terasa manusiawi: idealisme, pencarian jati diri, cinta yang tumbuh tidak selalu pada waktu yang tepat, dan pilihan hidup yang terkadang berseberangan dengan keinginan. Di panggung, tantangannya adalah menghadirkan kedalaman itu melalui akting yang intens, ekspresi tubuh, dan vokal yang meyakinkan.
Ketika penonton melihat karakter bernyanyi, mereka tidak hanya mendengar kata-kata; mereka merasakan. Inilah yang membuat musikal sering kali terasa lebih langsung menyentuh, terutama untuk kisah coming-of-age seperti Perahu Kertas.
Ciputra Artpreneur sebagai rumah pementasan
Pemilihan Ciputra Artpreneur sebagai lokasi pementasan memberi nilai tambah tersendiri. Venue ini dikenal sebagai salah satu ruang pertunjukan di Jakarta yang kerap menghadirkan produksi berskala besar, dengan dukungan tata suara dan tata cahaya yang mumpuni. Untuk sebuah musikal, kualitas teknis sangat menentukan—mulai dari kejelasan vokal, transisi adegan, hingga pencahayaan yang membantu membangun suasana.
Di tempat seperti ini, pertunjukan punya peluang lebih besar untuk tampil maksimal: detail artistik terlihat, dinamika panggung terasa, dan penonton bisa tenggelam dalam cerita tanpa banyak gangguan.
Alasan musikal ini patut ditonton
Buat yang sudah membaca novelnya atau menonton filmnya, musikal memberi sudut pandang baru. Beberapa adegan yang mungkin terasa “sunyi” di medium lain bisa menjadi sangat kuat ketika diterjemahkan ke dalam lagu. Sementara bagi penonton baru, musikal bisa menjadi pintu masuk yang menyenangkan untuk mengenal kisah Perahu Kertas.
- Pengalaman imersif: emosi terasa langsung melalui nyanyian dan akting panggung.
- Nostalgia bagi penggemar: bertemu kembali dengan kisah yang sudah melekat di hati banyak orang.
- Interpretasi baru: adaptasi musikal sering menghadirkan penekanan berbeda pada konflik dan karakter.
- Kualitas produksi: venue dan produksi panggung membantu cerita tampil lebih megah.
Penutup
Pembukaan Musikal Perahu Kertas di Ciputra Artpreneur menjadi penanda bahwa kisah ini terus menemukan bentuk-bentuk baru untuk menjangkau penikmat seni. Kehadiran Dee Lestari yang menyanyikan “Perahu Kertas” pada malam pertama seperti memberi garis bawah: cerita ini bukan hanya tentang romansa, tetapi tentang perjalanan menemukan diri, berani bermimpi, dan menerima bahwa hidup kadang bergerak di luar rencana.
Jika Anda mencari tontonan yang bukan sekadar hiburan, tetapi juga mengajak ikut larut dalam emosi dan refleksi, musikal ini layak masuk daftar. Terlebih, menyaksikan sebuah karya populer “hidup” di panggung selalu menawarkan sensasi yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh layar.

