Pengguna Narkotika Aktif di Indonesia Tembus 3,6 Juta

Pengguna Narkotika Aktif di Indonesia Tembus 3,6 Juta

Pengguna narkotika aktif di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah pemerintah menyebut ada sekitar 3,6 juta penduduk yang tercatat sebagai pengguna aktif. Angka ini disampaikan Sekretaris Kemenko Polhukam RI, Letnan Jenderal TNI Mochamad Hasan, dan langsung memantik diskusi luas: seberapa serius situasinya, siapa yang paling rentan, dan langkah apa yang bisa dilakukan bersama?

Walau terdengar seperti “sekadar angka”, data tersebut menggambarkan masalah besar yang menyentuh banyak sisi—kesehatan, keamanan, ekonomi, hingga masa depan keluarga. Penyalahgunaan narkotika bukan hanya soal pelanggaran hukum, tetapi juga persoalan sosial dan kesehatan publik yang membutuhkan penanganan terpadu.

Angka 3,6 Juta: Mengapa Ini Mengkhawatirkan?

Ketika jumlah pengguna narkotika aktif mencapai jutaan orang, dampaknya ikut merembet ke berbagai sektor. Dari sisi kesehatan, risiko overdosis, gangguan mental, penyakit menular, hingga kerusakan organ menjadi ancaman nyata. Dari sisi sosial, narkotika kerap memicu konflik keluarga, putus sekolah, hingga meningkatnya kerentanan kriminalitas.

Lebih jauh, tingginya angka pengguna juga menunjukkan bahwa akses terhadap narkotika masih terjadi, jaringan peredaran masih bergerak, dan upaya pencegahan perlu diperkuat. Ini bukan semata pekerjaan aparat, melainkan agenda bersama yang melibatkan rumah, sekolah, tempat kerja, komunitas, dan pemerintah.

Siapa yang Paling Rentan Terpapar?

Setiap orang bisa terdampak, tetapi ada kelompok-kelompok yang umumnya lebih rentan karena faktor lingkungan, tekanan sosial, atau minimnya literasi kesehatan. Beberapa situasi yang sering menjadi pintu masuk penyalahgunaan antara lain:

  • Rasa ingin tahu dan tekanan pergaulan, terutama pada usia remaja dan dewasa muda.
  • Stres berkepanjangan, masalah keluarga, atau beban ekonomi.
  • Lingkungan tempat tinggal atau pertemanan yang sudah terpapar peredaran.
  • Kurangnya edukasi tentang risiko dan dampak jangka panjang.

Penting digarisbawahi: tidak semua pengguna berawal dari “niat buruk”. Banyak yang bermula dari coba-coba, ingin diterima di kelompok, atau pelarian dari masalah. Karena itu, pendekatan pencegahan dan rehabilitasi perlu lebih humanis dan tepat sasaran.

Dampak Penyalahgunaan Narkotika: Bukan Hanya untuk Pengguna

Sering kali orang mengira dampaknya hanya dirasakan si pengguna. Padahal, efek domino bisa mengenai keluarga dan masyarakat luas. Contohnya:

  • Keluarga: konflik rumah tangga, hilangnya rasa percaya, hingga beban finansial untuk perawatan.
  • Pendidikan dan kerja: turunnya produktivitas, absensi, drop out, serta sulit mempertahankan karier.
  • Keamanan lingkungan: peningkatan tindak kriminal tertentu yang berkaitan dengan kebutuhan membeli barang terlarang.
  • Kesehatan publik: meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan dan rehabilitasi.

Apa yang Bisa Dilakukan? Pencegahan dari Hal Paling Dekat

Angka besar tidak selalu berarti kita tidak bisa berbuat apa-apa. Justru, perubahan biasanya dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan di level keluarga dan komunitas:

1) Bangun komunikasi yang aman di rumah

Anak dan remaja lebih mudah terbuka jika tidak langsung dihakimi. Mulailah dari percakapan ringan tentang pergaulan, kesehatan mental, dan cara menolak ajakan yang berisiko.

2) Edukasi yang realistis, bukan menakut-nakuti

Kampanye yang hanya mengandalkan rasa takut sering kurang efektif. Edukasi sebaiknya menjelaskan dampak nyata, risiko hukum, dan konsekuensi kesehatan dengan bahasa yang mudah dipahami.

3) Perkuat lingkungan positif

Kegiatan olahraga, komunitas kreatif, aktivitas keagamaan, hingga pelatihan keterampilan bisa menjadi “ruang aman” agar orang punya dukungan sosial yang sehat.

4) Kenali tanda-tanda awal

Tanda bisa bervariasi, tetapi perubahan perilaku yang drastis, menarik diri, perubahan pola tidur, dan masalah keuangan tanpa alasan jelas patut diwaspadai. Jika ada kecurigaan, cari bantuan profesional dan layanan terkait.

Penutup

Pernyataan mengenai 3,6 juta pengguna narkotika aktif di Indonesia seharusnya menjadi alarm bersama, bukan sekadar headline. Penanganan narkotika perlu berjalan seimbang: pencegahan yang kuat, penegakan hukum yang tegas terhadap jaringan peredaran, serta akses rehabilitasi dan pemulihan yang lebih mudah dijangkau.

Semakin cepat masyarakat terlibat—mulai dari keluarga, sekolah, sampai komunitas—semakin besar peluang kita menekan angka penyalahgunaan dan menyelamatkan lebih banyak masa depan.