Pertumbuhan Ekonomi 2025 5,11%: BPS & Purbaya

Pertumbuhan Ekonomi 2025 5,11%: BPS & Purbaya

Pertumbuhan ekonomi 2025 tercatat sebesar 5,11% berdasarkan rilis terbaru Badan Pusat Statistik (BPS). Angka ini menjadi sorotan karena menggambarkan daya tahan aktivitas ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan, mulai dari dinamika global, tekanan harga, hingga penyesuaian kebijakan di dalam negeri. Menariknya, pada kuartal IV-2025 pertumbuhan bahkan mencapai 5,39%, memberi sinyal bahwa laju ekonomi di akhir tahun relatif lebih kencang.

Di tengah respons publik yang beragam—ada yang menganggap angka ini masih “biasa saja”, ada pula yang menilai cukup solid—pernyataan Purbaya yang menyebut pertumbuhan tersebut “masih lumayan” ikut menambah warna dalam diskusi. Kalimat sederhana itu pada dasarnya merefleksikan satu hal: ekonomi tumbuh, tetapi ruang perbaikan masih terbuka lebar.

Rilis BPS: Ekonomi 2025 Tumbuh 5,11%

BPS melaporkan pertumbuhan ekonomi sepanjang 2025 mencapai 5,11%. Secara umum, angka pertumbuhan di kisaran 5% kerap dipandang sebagai level yang mencerminkan ekspansi ekonomi yang relatif stabil—tidak terlalu rendah hingga memicu kekhawatiran, namun juga belum cukup tinggi jika targetnya adalah akselerasi yang lebih agresif.

Dalam pembacaan data makro, pertumbuhan tahunan (year-on-year) seperti ini biasanya digunakan untuk melihat performa ekonomi secara menyeluruh selama satu tahun kalender, termasuk apakah konsumsi rumah tangga, investasi, belanja pemerintah, ekspor-impor, serta produksi berbagai sektor bergerak positif.

Kuartal IV-2025 Lebih Kencang: Tumbuh 5,39%

Selain angka tahunan, BPS juga mencatat pertumbuhan pada kuartal IV-2025 mencapai 5,39%. Ini penting karena kuartal IV sering menjadi periode yang cukup “ramai” secara ekonomi: aktivitas konsumsi meningkat, dunia usaha mengejar target tahunan, dan beberapa sektor biasanya mengalami puncak permintaan.

Performa kuartal IV yang lebih tinggi dibanding angka tahunan bisa dibaca sebagai sinyal adanya penguatan di akhir tahun. Namun, pembacaan yang lebih akurat tetap membutuhkan detail komponen pertumbuhan—apakah dorongan datang dari konsumsi, investasi, ekspor, atau belanja pemerintah—serta seberapa merata dampaknya terhadap sektor-sektor dan wilayah.

Pernyataan Purbaya: “Masih Lumayan” dan Maknanya

Purbaya menyebut pertumbuhan ekonomi 2025 “masih lumayan”. Frasa ini bisa ditafsirkan dari dua sisi sekaligus:

  • Optimistis: ekonomi tetap tumbuh solid di tengah tekanan global dan ketidakpastian, artinya fundamental cukup terjaga.
  • Realistis-kritis: angka 5,11% belum tentu mencerminkan kualitas pertumbuhan yang ideal jika tantangan lapangan kerja, daya beli, atau pemerataan masih menjadi pekerjaan rumah.

Dalam konteks kebijakan, respons seperti ini sering menjadi pengingat bahwa pertumbuhan bukan sekadar angka headline. Publik biasanya ingin tahu apakah pertumbuhan tersebut benar-benar terasa pada stabilitas harga, kesempatan kerja, pendapatan masyarakat, dan kelancaran usaha.

Kenapa Angka 5% Tetap Penting untuk Dibahas?

Pertumbuhan di kisaran 5% bukan angka kecil. Bagi banyak negara berkembang, stabilitas pertumbuhan menjadi faktor kunci untuk menjaga keyakinan pelaku usaha, memicu investasi, dan mendukung penciptaan lapangan kerja. Namun, ada beberapa alasan mengapa angka ini tetap perlu dikupas lebih dalam:

  • Kualitas pertumbuhan: apakah pertumbuhan ditopang konsumsi yang sehat atau hanya dorongan sementara?
  • Pemerataan: apakah dampaknya merata ke berbagai daerah atau terkonsentrasi di wilayah tertentu?
  • Daya beli: pertumbuhan yang baik idealnya sejalan dengan daya beli yang terjaga dan inflasi yang terkendali.
  • Lapangan kerja: pertumbuhan yang berkualitas biasanya menciptakan pekerjaan formal yang lebih banyak dan produktif.

Apa yang Perlu Dicermati Selanjutnya?

Setelah rilis pertumbuhan ekonomi 2025, fokus berikutnya biasanya mengarah pada data turunan dan indikator pendukung. Beberapa hal yang layak dicermati publik dan pelaku pasar antara lain:

  • Komponen pertumbuhan: konsumsi rumah tangga, investasi (PMTB), belanja pemerintah, ekspor dan impor.
  • Kontribusi sektor: sektor mana yang paling mendorong—industri pengolahan, perdagangan, pertanian, pertambangan, atau jasa.
  • Indikator harga dan daya beli: tren inflasi, harga pangan, serta pergerakan upah riil.
  • Perkembangan kredit dan investasi: apakah dunia usaha semakin ekspansif atau masih menahan diri.

Kesimpulan

Pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,11% menurut BPS, dengan kuartal IV-2025 mencapai 5,39%, menunjukkan ekonomi Indonesia tetap bergerak ekspansif dan bahkan menguat di penghujung tahun. Pernyataan Purbaya yang menilai angka tersebut “masih lumayan” menggambarkan sikap yang cenderung realistis: ada capaian yang patut diapresiasi, tetapi pekerjaan rumah untuk meningkatkan kualitas dan pemerataan pertumbuhan tetap besar.

Ke depan, perhatian publik tidak hanya tertuju pada headline angka pertumbuhan, melainkan juga pada seberapa kuat dampaknya terhadap daya beli, kesempatan kerja, dan keberlanjutan aktivitas usaha di berbagai sektor.