Perubahan morfologi Merapi kembali terpantau dalam laporan pemantauan terbaru dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta. Kali ini, perubahan kecil terlihat pada kubah lava di sektor barat daya Gunung Merapi, yang dipengaruhi oleh dinamika volume kubah dan aktivitas guguran lava yang masih berlangsung.
Pemantauan BPPTKG: Ada Perubahan pada Kubah Barat Daya
Dalam pengamatan rutin, BPPTKG mencatat adanya sedikit perubahan bentuk (morfologi) pada kubah barat daya. Kubah lava sendiri merupakan gundukan material lava yang menumpuk di area puncak atau dekat puncak, terbentuk karena lava kental keluar perlahan lalu membeku dan menumpuk dari waktu ke waktu.
Perubahan morfologi yang dimaksud dapat berupa perubahan kontur permukaan, kemiringan, atau pergeseran area runtuhan pada kubah. Meski disebut “sedikit”, catatan seperti ini penting karena Gunung Merapi dikenal sebagai gunung api yang sangat aktif dan dinamis—perubahan kecil pun perlu dipantau untuk membaca arah aktivitas berikutnya.
Apa yang Menyebabkan Morfologi Kubah Berubah?
Secara umum, perubahan pada kubah lava erat kaitannya dengan dua faktor utama: pertambahan atau pengurangan volume kubah, serta aktivitas guguran material lava dari tubuh kubah itu sendiri. BPPTKG menyoroti bahwa perubahan di kubah barat daya kali ini terjadi akibat kombinasi keduanya.
1) Perubahan Volume Kubah Lava
Volume kubah dapat berubah karena suplai magma/lava dari dalam gunung masih berlangsung. Saat lava baru terdorong ke atas, ia menambah timbunan material pada kubah. Namun pada saat yang sama, sebagian material bisa runtuh atau tergerus, membuat volume efektif terlihat berubah.
Perubahan volume ini tidak selalu berarti peningkatan bahaya secara drastis, tetapi menjadi salah satu indikator penting dalam evaluasi aktivitas Merapi. BPPTKG biasanya mengaitkan perubahan volume dengan data lain seperti kegempaan, deformasi, serta pengamatan visual.
2) Aktivitas Guguran Lava
Guguran lava adalah peristiwa runtuhnya sebagian material kubah atau aliran lava yang sudah membeku/semibeku dari lereng kubah. Guguran dapat terjadi karena gravitasi, perubahan stabilitas struktur kubah, atau dorongan material baru dari belakang yang membuat bagian depan menjadi rapuh.
Aktivitas guguran ini ikut membentuk ulang “wajah” kubah: ada bagian yang terpotong, terbentuk jalur runtuhan, atau muncul tonjolan baru. Karena itu, guguran lava sering menjadi penyebab perubahan morfologi yang terlihat dari waktu ke waktu.
Mengapa Perubahan Morfologi Merapi Perlu Diperhatikan?
Gunung Merapi berada di salah satu kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi di Indonesia. Maka, setiap perkembangan aktivitas—termasuk perubahan morfologi kubah—memiliki nilai penting untuk mitigasi risiko dan kesiapsiagaan masyarakat.
Berikut beberapa alasan mengapa perubahan bentuk kubah menjadi perhatian:
- Indikator dinamika internal: Kubah yang bertambah atau berubah bisa menandakan suplai lava masih aktif.
- Potensi runtuhan lanjutan: Perubahan struktur kubah dapat meningkatkan peluang guguran berikutnya di sektor yang sama.
- Kaitan dengan bahaya awan panas: Pada kondisi tertentu, runtuhan besar kubah dapat memicu awan panas guguran, tergantung volume dan energi runtuhannya.
- Dasar rekomendasi kebencanaan: Data morfologi membantu otoritas menyusun rekomendasi aktivitas warga, termasuk zona bahaya.
Konteks Kubah Barat Daya: Sektor yang Aktif Dipantau
Kubah barat daya Merapi merupakan salah satu area yang dalam beberapa periode terakhir kerap menjadi fokus pemantauan. Alasannya, arah guguran dan akumulasi material dapat memengaruhi potensi bahaya di jalur-jalur tertentu sesuai topografi dan aliran sungai di sekitarnya.
Meski ringkasan laporan menyebut perubahan morfologi yang terpantau masih “sedikit”, BPPTKG umumnya menilai kondisi Merapi berdasarkan gabungan data. Artinya, bukan hanya melihat perubahan bentuk kubah saja, tetapi juga mempertimbangkan tren kegempaan, sinyal deformasi, hingga pengamatan visual harian.
Apa yang Sebaiknya Dilakukan Warga dan Wisatawan?
Mengikuti informasi resmi adalah langkah paling aman. Ketika ada laporan tentang perubahan morfologi, masyarakat tidak perlu panik, tetapi perlu meningkatkan kewaspadaan sesuai arahan otoritas.
- Pantau informasi resmi dari BPPTKG dan instansi penanggulangan bencana setempat.
- Patuhi rekomendasi zona bahaya dan hindari aktivitas di area yang dilarang.
- Waspadai potensi guguran terutama saat cuaca berkabut atau malam hari ketika visual sulit dipantau langsung.
- Siapkan rencana keluarga (jalur evakuasi, kontak darurat) terutama bagi warga di kawasan rawan bencana.
Kesimpulan
Perubahan morfologi Merapi yang terpantau pada kubah barat daya menunjukkan bahwa aktivitas gunung api ini masih dinamis. Perubahan tersebut dikaitkan dengan perubahan volume kubah dan aktivitas guguran lava—dua hal yang lazim terjadi pada Merapi, namun tetap perlu dicermati karena dapat memengaruhi tingkat risiko di lapangan.
Masyarakat di sekitar Merapi dan para pengunjung diimbau untuk terus mengikuti pembaruan dari sumber resmi dan mematuhi rekomendasi keselamatan yang berlaku. Dengan pemantauan yang konsisten dan kesiapsiagaan yang baik, risiko dapat ditekan tanpa memicu kepanikan yang tidak perlu.

