Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus dilanjutkan implementasinya oleh Komisi IX DPR RI bersama mitra kerja Badan Gizi Nasional (BGN). Upaya ini dinilai strategis karena menyasar kebutuhan dasar anak dan keluarga: asupan gizi yang cukup dan aman, demi meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.
Dalam berbagai kesempatan sosialisasi di daerah, termasuk di Sidoarjo, Komisi IX DPR menekankan bahwa program sebesar MBG tidak bisa berjalan optimal jika hanya mengandalkan pemerintah pusat atau penyelenggara di lapangan. Kunci keberhasilannya ada pada dukungan semua pihak—terutama orang tua—yang paling dekat dengan anak dan paling cepat melihat dampaknya.
Apa Itu Program Makan Bergizi Gratis (MBG)?
MBG merupakan program pemenuhan gizi yang dirancang untuk memastikan anak-anak mendapatkan makanan dengan kandungan nutrisi yang memadai. Secara tujuan besar, program ini diarahkan untuk:
- mendukung tumbuh kembang anak melalui asupan gizi seimbang,
- mencegah masalah gizi seperti stunting dan anemia,
- meningkatkan konsentrasi belajar dan produktivitas,
- memperkuat kualitas kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.
Komisi IX DPR RI sebagai mitra di bidang kesehatan dan ketenagakerjaan ikut mengawal program ini, sementara BGN berperan sebagai mitra kerja yang fokus pada aspek gizi dan dukungan teknis implementasi.
Mengapa Orang Tua Punya Peran Sangat Penting?
Komisi IX DPR meminta orang tua tidak sekadar menjadi penerima manfaat pasif. Dalam konteks program gizi, keterlibatan keluarga menentukan apakah intervensi yang diberikan benar-benar berdampak atau justru berhenti di “seremonial”. Orang tua adalah pihak yang bisa memastikan anak memanfaatkan program dengan benar dan konsisten.
1) Mengawasi kebiasaan makan anak
Program makan bergizi di sekolah atau komunitas hanya salah satu bagian dari kebutuhan gizi harian. Orang tua dapat melanjutkan kebiasaan baik di rumah dengan memastikan anak tetap sarapan, minum cukup air, dan tidak berlebihan konsumsi makanan ultra-proses.
2) Memastikan anak benar-benar mengonsumsi menu yang diberikan
Di lapangan, tantangannya sering sederhana: anak kadang memilih-milih makanan. Orang tua bisa membantu dengan memberi edukasi, membangun kebiasaan mencoba, dan berkomunikasi dengan guru atau pihak penyedia bila ada kendala tertentu.
3) Memberi masukan soal alergi dan kebutuhan khusus
Setiap anak berbeda. Ada yang memiliki alergi telur, susu, seafood, atau kondisi tertentu yang memerlukan perhatian. Orang tua yang aktif menyampaikan informasi ini membantu program berjalan aman, tepat sasaran, dan tidak menimbulkan risiko kesehatan.
4) Ikut mengawal kualitas dan keamanan pangan
Kualitas makanan tidak hanya diukur dari “gratis”, tetapi juga dari kebersihan, keamanan, dan kandungan gizinya. Orang tua dapat menjadi pengawas sosial yang konstruktif—melaporkan bila ada makanan yang kurang layak, porsi tidak sesuai, atau distribusi yang tidak tepat.
Implementasi MBG: Kolaborasi yang Harus Dijaga
Implementasi program berskala nasional seperti MBG membutuhkan koordinasi lintas pihak: pemerintah, lembaga teknis seperti BGN, satuan pendidikan, penyedia makanan, tenaga kesehatan, dan masyarakat. Komisi IX DPR menegaskan pentingnya program terus berjalan secara konsisten, tidak hanya ramai di awal.
Kolaborasi ini juga penting agar manfaat program bisa merata, termasuk di daerah dengan tantangan distribusi, keterbatasan akses bahan pangan segar, atau minimnya edukasi gizi.
Tips Praktis: Cara Orang Tua Mengawal Program MBG
Berikut langkah sederhana yang bisa dilakukan orang tua agar program berjalan efektif:
- Rutin bertanya pada anak tentang menu yang diterima dan apakah dimakan habis.
- Catat reaksi tubuh bila ada alergi atau keluhan setelah konsumsi makanan tertentu.
- Bangun komunikasi dengan wali kelas, sekolah, atau koordinator program di lingkungan setempat.
- Dukung pola makan sehat di rumah agar manfaat MBG tidak “putus” setelah jam sekolah.
- Berikan masukan yang sopan dan jelas bila menemukan kendala porsi, kebersihan, atau ketepatan sasaran.
Penutup
Program Makan Bergizi Gratis adalah investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi yang lebih sehat, kuat, dan produktif. Karena itu, pesan Komisi IX DPR agar orang tua berperan aktif patut menjadi perhatian bersama. Ketika keluarga ikut mengawal, program tidak hanya berjalan, tetapi benar-benar memberi dampak nyata bagi anak—dan pada akhirnya bagi kualitas sumber daya manusia Indonesia.

