PSEL Bandar Lampung Dinilai Belum Solusi Jangka Panjang

PSEL Bandar Lampung Dinilai Belum Solusi Jangka Panjang

PSEL Bandar Lampung kembali jadi sorotan setelah sejumlah akademisi menilai penerapannya belum mampu menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi pencemaran lingkungan. Program pengolahan sampah yang sering dipromosikan sebagai jalan keluar modern ini dinilai masih menyisakan banyak catatan, terutama soal dampak lingkungan, kepastian teknologi, hingga tata kelola yang konsisten.

Di atas kertas, PSEL (Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik) terdengar menjanjikan: volume sampah berkurang, energi dihasilkan, dan beban TPA berkurang. Namun, dalam praktiknya, keberhasilan skema semacam ini sangat bergantung pada kesiapan sistem persampahan dari hulu ke hilir—mulai dari pemilahan, pengangkutan, kualitas sampah, hingga kontrol emisi dan residu.

Apa Itu PSEL dan Mengapa Dianggap Menarik?

PSEL merupakan konsep pengolahan sampah yang bertujuan mengubah sebagian material sampah menjadi energi, umumnya listrik. Skema ini kerap dikaitkan dengan teknologi seperti RDF (refuse-derived fuel), gasifikasi, pirolisis, hingga insinerasi dengan pemulihan energi (waste-to-energy).

Daya tariknya jelas: kota-kota yang kewalahan dengan sampah berharap bisa mengurangi ketergantungan pada tempat pembuangan akhir (TPA). Selain itu, ada harapan bahwa PSEL bisa menekan pencemaran lingkungan akibat sampah yang menumpuk, pembakaran liar, atau lindi (leachate) yang merembes ke tanah dan badan air.

Penilaian Akademisi: Mengapa PSEL Bandar Lampung Dinilai Belum Cukup?

Akademisi menilai PSEL Bandar Lampung belum bisa diposisikan sebagai solusi jangka panjang, bukan semata karena konsepnya, melainkan karena faktor implementasi dan prasyarat yang belum terpenuhi secara kuat. Ada beberapa poin yang kerap menjadi perhatian dalam diskusi publik terkait PSEL.

1) Masalah dari hulu: pemilahan sampah belum optimal

PSEL membutuhkan pasokan sampah yang relatif stabil dan sesuai spesifikasi. Jika pemilahan dari sumber (rumah tangga, pasar, kawasan komersial) tidak berjalan, maka sampah tercampur organik, plastik, logam, hingga material berbahaya. Kondisi ini membuat proses pengolahan menjadi lebih sulit, berbiaya tinggi, dan berpotensi menimbulkan emisi atau residu yang lebih kompleks.

2) Risiko pencemaran masih ada jika kontrol ketat tidak berjalan

Salah satu kekhawatiran yang sering muncul adalah potensi emisi udara, abu/residu, serta pengelolaan limbah turunan. Teknologi pengolahan sampah menjadi energi membutuhkan sistem pengendalian emisi dan pemantauan yang ketat. Tanpa standar operasional yang disiplin, tujuan mengurangi pencemaran justru bisa bergeser menjadi memindahkan masalah dari satu medium ke medium lain (dari tanah/air menjadi udara, misalnya).

3) Ketergantungan pada teknologi dan pembiayaan

Skema PSEL bukan proyek murah. Dibutuhkan investasi, biaya operasional, perawatan, serta ketersediaan SDM yang mampu mengoperasikan fasilitas secara konsisten. Jika pembiayaan dan model bisnis tidak matang, layanan bisa tersendat, dan target pengurangan sampah sulit tercapai.

4) PSEL bukan pengganti strategi 3R

Banyak akademisi menekankan bahwa pendekatan jangka panjang seharusnya mengutamakan reduce, reuse, recycle (3R). PSEL cenderung berperan di hilir, sementara sumber masalah sampah ada di hulu: konsumsi berlebihan, produk sekali pakai, minimnya pemilahan, dan sistem daur ulang yang belum kuat.

Implikasi bagi Penanganan Pencemaran Lingkungan

Ketika PSEL belum berjalan sesuai harapan, persoalan pencemaran lingkungan tetap berpotensi terjadi. Penumpukan sampah, lindi yang tidak tertangani baik, serta praktik pembakaran terbuka dapat mencemari udara dan air, sekaligus memicu gangguan kesehatan di sekitar area penampungan dan jalur pengangkutan.

Karena itu, penilaian bahwa PSEL belum menjadi solusi jangka panjang bisa dibaca sebagai peringatan: kota perlu memperkuat sistem persampahan secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada pembangunan fasilitas.

Apa yang Perlu Diperkuat agar Solusinya Lebih Berkelanjutan?

Jika targetnya adalah solusi jangka panjang, maka beberapa langkah berikut umumnya dianggap penting untuk melengkapi (atau mengoreksi) arah kebijakan:

  • Penguatan pemilahan dari sumber melalui edukasi, insentif, dan regulasi yang jelas.
  • Peningkatan kapasitas daur ulang dan dukungan untuk pelaku bank sampah serta industri daur ulang lokal.
  • Standar lingkungan yang ketat untuk teknologi pengolahan, termasuk pemantauan emisi dan pengelolaan residu.
  • Transparansi data terkait volume sampah, capaian pengurangan, biaya operasional, dan dampak lingkungan.
  • Pengurangan sampah sekali pakai lewat kebijakan dan perubahan perilaku konsumsi.

Kesimpulan

PSEL Bandar Lampung dinilai belum mampu menjadi solusi jangka panjang untuk pencemaran lingkungan karena tantangan implementasi, kesiapan sistem persampahan, serta risiko dampak turunan yang masih perlu dijawab dengan tata kelola yang kuat. PSEL bisa menjadi bagian dari strategi, tetapi bukan satu-satunya jawaban. Tanpa penguatan 3R, pemilahan dari sumber, dan pengawasan lingkungan yang konsisten, upaya mengatasi pencemaran berisiko berjalan di tempat.

Ke depan, kunci keberhasilan bukan hanya pada teknologi, melainkan pada konsistensi kebijakan, partisipasi warga, dan transparansi pelaksanaan agar pengelolaan sampah benar-benar menurunkan pencemaran—bukan sekadar memindahkan masalah.