Revolusi Iran 11 Februari 1979 menjadi salah satu titik balik paling menentukan di Timur Tengah, ketika pendukung gerakan Islam berhasil menguasai Teheran dan menandai runtuhnya pemerintahan lama. Peristiwa pada tanggal ini kerap disebut sebagai puncak revolusi yang membuka jalan bagi lahirnya Republik Islam Iran.
Di banyak catatan sejarah, 11 Februari 1979 dipahami bukan sekadar pergantian kekuasaan biasa. Hari itu menjadi penanda bahwa kontrol negara—mulai dari pusat pemerintahan, aparat keamanan, hingga media—beralih ke tangan kekuatan revolusioner yang dipimpin para ulama dan jaringan pendukungnya. Dampaknya terasa jauh melampaui Iran, memengaruhi dinamika politik regional hingga dekade-dekade berikutnya.
Latar Belakang Menuju 11 Februari 1979
Untuk memahami mengapa 11 Februari 1979 begitu menentukan, kita perlu melihat rangkaian gejolak yang mendahuluinya. Pada akhir 1970-an, Iran berada dalam ketegangan politik dan sosial yang meningkat. Pemerintahan monarki Pahlavi menghadapi kritik dari berbagai arah: kelompok religius, mahasiswa, intelektual, hingga masyarakat yang terdampak kesenjangan ekonomi.
Demonstrasi, pemogokan, dan aksi protes berlangsung berbulan-bulan. Situasi kian memburuk ketika legitimasi pemerintah menurun, sementara gerakan oposisi semakin terorganisasi. Di tengah kondisi itu, tokoh ulama yang menjadi simbol perlawanan—Ayatullah Ruhollah Khomeini—mendapat dukungan besar, termasuk dari jaringan pendukung ulama lain yang kemudian berperan dalam konsolidasi pascarevolusi.
Apa yang Terjadi pada 11 Februari 1979?
Pada 11 Februari 1979, momentum revolusi mencapai klimaks. Di Teheran, benturan antara pendukung revolusi dan elemen-elemen yang masih setia pada pemerintahan lama mendorong terjadinya peralihan kontrol atas berbagai titik strategis. Dalam banyak laporan, hari itu ditandai dengan:
- Perebutan fasilitas penting di ibu kota, termasuk kantor-kantor pemerintahan dan infrastruktur komunikasi.
- Runtuhnya efektivitas komando aparat keamanan yang sebelumnya menjadi tulang punggung rezim lama.
- Menguatnya kontrol revolusioner melalui komite-komite dan jaringan sipil yang mendukung perubahan.
Peristiwa tersebut sering dipahami sebagai momen ketika kekuasaan faktual di lapangan berpindah. Teheran yang sebelumnya menjadi pusat kendali monarki, berubah menjadi pusat konsolidasi revolusi.
Mengapa Peristiwa Ini Jadi Cikal Bakal Rezim Islam di Iran?
Setelah ibu kota berada di bawah kendali revolusioner, fase berikutnya adalah pembentukan tatanan politik baru. Dalam konteks inilah 11 Februari 1979 disebut sebagai cikal bakal berdirinya rezim Islam di Iran. Sebab, kemenangan di Teheran membuka jalan bagi:
- Transisi institusional: lembaga-lembaga lama ditata ulang, sebagian diganti atau diambil alih untuk menyesuaikan arah pemerintahan baru.
- Legitimasi politik: keberhasilan menguasai pusat kekuasaan memberi pijakan kuat bagi kepemimpinan ulama untuk menawarkan model negara berbasis prinsip-prinsip Islam.
- Konsolidasi keamanan: kontrol atas aparat dan mekanisme keamanan membantu pemerintahan baru menjaga stabilitas sekaligus menekan perlawanan.
Hasil akhirnya adalah lahirnya Republik Islam Iran, yang kemudian memformalkan prinsip velayat-e faqih (kepemimpinan ulama) dalam struktur negara. Dari sinilah arah kebijakan Iran berubah secara signifikan, baik dalam urusan domestik maupun hubungan luar negeri.
Peran Figur Ulama dan Jaringan Pendukung
Dalam narasi populer, revolusi sering dilekatkan pada figur Khomeini sebagai pemimpin utama. Namun, jaringan ulama dan pendukungnya memiliki peran penting dalam mengelola momentum, mengorganisasi dukungan massa, dan mengisi ruang kekuasaan setelah rezim lama melemah.
Di kemudian hari, sejumlah tokoh ulama lain—termasuk Ali Khamenei yang kelak menjadi Pemimpin Tertinggi Iran—muncul sebagai bagian dari arsitektur politik baru. Karena itu, ketika disebut “pendukung Ayatullah Khamenei” menguasai ibu kota, penting untuk memahaminya dalam konteks lebih luas: sebagai bagian dari gelombang kekuatan Islam revolusioner yang mengambil alih Teheran dan mengarahkan Iran ke era Republik Islam.
Dampak Revolusi Iran 11 Februari 1979 bagi Kawasan
Dampak Revolusi Iran 11 Februari 1979 tidak berhenti di dalam negeri. Pergantian rezim di Iran memengaruhi peta politik Timur Tengah, antara lain melalui:
- Perubahan orientasi kebijakan luar negeri Iran yang lebih ideologis dan berseberangan dengan sejumlah kekuatan regional.
- Munculnya inspirasi gerakan politik di beberapa negara lain yang melihat revolusi sebagai model perlawanan.
- Ketegangan geopolitik baru yang membentuk dinamika keamanan kawasan selama puluhan tahun.
Kesimpulan
Revolusi Iran 11 Februari 1979 adalah hari ketika Teheran jatuh ke tangan kekuatan revolusioner, menandai berakhirnya babak pemerintahan lama dan membuka jalan bagi berdirinya Republik Islam Iran. Dari sudut pandang sejarah, tanggal ini menjadi penanda perubahan besar: bukan hanya pergantian pemimpin, tetapi juga transformasi sistem politik, ideologi negara, dan arah kebijakan yang dampaknya terasa hingga hari ini.
