Roby Tremonti ngamuk setelah dirinya dihujat netizen, lalu melontarkan pernyataan yang memicu perdebatan baru. Dalam sebuah sesi siaran langsung, Roby secara gamblang menuding rangkaian kalimat puitis dan mendalam dalam sebuah buku yang dikaitkan dengan Aurelie Moeremans bukanlah murni buah pikiran Aurelie.
Isu ini cepat menyebar karena menyentuh dua hal yang sensitif di ruang publik: reputasi personal dan kredibilitas karya tulis. Di sisi lain, netizen pun terbelah—ada yang menganggap pernyataan Roby sebagai bentuk “klarifikasi”, sementara yang lain menilainya sebagai serangan yang tidak perlu.
Kronologi: Dari Hujatan Netizen ke Siaran Langsung
Polemik bermula ketika Roby mendapat komentar pedas dari warganet. Alih-alih diam, ia memilih merespons secara terbuka melalui siaran langsung. Respons spontan inilah yang kemudian ditangkap publik sebagai “ngamuk”, karena nada bicara dan pilihan kata yang dinilai emosional.
Dalam siaran tersebut, Roby menyinggung kemampuan menulis Aurelie. Ia menyebut Aurelie “kelewat pintar” menulis buku—ungkapan yang kemudian dipahami sebagian orang sebagai sindiran. Namun yang paling memantik reaksi adalah tudingan Roby bahwa kalimat-kalimat puitis dan dalam yang muncul di buku itu dianggap bukan sepenuhnya berasal dari Aurelie.
Tudingan Soal Orisinalitas: Apa yang Sebenarnya Dipersoalkan?
Inti pernyataan Roby mengarah pada satu isu utama: orisinalitas proses kreatif. Di dunia penerbitan, keterlibatan editor, kurator naskah, hingga penulis pendamping (ghostwriter) bukan hal baru. Masalah biasanya muncul ketika publik menganggap sebuah karya adalah seratus persen hasil pemikiran penulis yang namanya tercantum di sampul, sementara proses di balik layar tidak pernah dijelaskan.
Meski begitu, tudingan yang disampaikan di ruang publik tanpa bukti yang jelas berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Publik akhirnya menilai berdasarkan potongan pernyataan, bukan konteks lengkap atau data yang terverifikasi.
Istilah “Kelewat Pintar” Jadi Bahan Tafsir
Kalimat “kelewat pintar” sendiri terasa ambigu. Ada yang menilai itu pujian bernada sinis, ada pula yang memaknainya sebagai bentuk ketidakpercayaan terhadap kemampuan menulis Aurelie. Dalam kasus seperti ini, persepsi audiens sangat dipengaruhi oleh gestur, intonasi, dan emosi saat pernyataan disampaikan.
Reaksi Netizen: Terbelah dan Makin Ramai
Setelah siaran langsung tersebut, respons warganet muncul dalam berbagai spektrum. Sebagian menuntut Roby untuk menjelaskan maksudnya dengan lebih rapi, termasuk menunjukkan alasan kuat di balik tudingan tentang kalimat yang disebut tidak murni.
Sementara itu, ada juga yang menilai Roby sebenarnya sedang tersulut emosi karena hujatan yang ia terima. Dalam situasi diserang ramai-ramai, respons defensif memang kerap terjadi, apalagi di platform yang mendorong interaksi cepat dan viral.
- Kelompok pro-Roby menilai ini sebagai bentuk “kejujuran” dan keberanian membongkar sesuatu.
- Kelompok kontra-Roby menganggap pernyataan tersebut merugikan pihak lain dan berpotensi menjadi fitnah.
- Kelompok netral meminta semua pihak menahan diri dan menunggu klarifikasi yang lebih lengkap.
Soal Ghostwriter dan Editor: Normal, Tapi Harus Transparan
Di industri buku, adanya editor yang membantu merapikan struktur tulisan hingga memperindah gaya bahasa adalah hal wajar. Bahkan ada buku yang sejak awal memang ditulis bersama tim, terutama untuk figur publik yang memiliki kesibukan tinggi. Namun, transparansi menjadi kunci agar tidak memicu kecurigaan pembaca.
Jika yang dipersoalkan Roby adalah keterlibatan pihak lain dalam penulisan, isu ini seharusnya dibahas dengan parameter yang jelas: apakah ada kredit penulisan, apakah ada perjanjian kerja, dan apakah pembaca diberi gambaran yang jujur tentang proses kreatifnya.
Kenapa Polemik Ini Cepat Viral?
Ada beberapa faktor yang membuat isu ini cepat menyebar. Pertama, adanya unsur konflik personal yang mudah memancing perhatian. Kedua, topik “keaslian karya” selalu sensitif karena berkaitan dengan integritas. Ketiga, format siaran langsung membuat emosi terlihat mentah, sehingga mudah dipotong dan dikutip tanpa konteks.
Dampak ke Reputasi
Untuk figur publik, satu pernyataan dapat berdampak pada dua sisi: citra pribadi dan kepercayaan audiens. Ketika perdebatan bergeser dari isu awal ke serangan karakter, ruang untuk klarifikasi sering kali menyempit. Karena itu, banyak pihak menilai komunikasi di ruang publik perlu lebih terukur.
Penutup: Perlu Klarifikasi Agar Tidak Jadi Bola Liar
Pernyataan Roby Tremonti dalam siaran langsung telah memicu diskusi luas, terutama terkait tudingan bahwa kalimat-kalimat puitis dalam buku yang dikaitkan dengan Aurelie Moeremans bukan murni buah pikirannya. Di tengah reaksi netizen yang terbelah, yang paling dibutuhkan adalah klarifikasi yang lebih jelas, berbasis fakta, dan tidak memanaskan situasi.
Jika polemik ini terus bergulir tanpa penjelasan rinci, narasi akan mudah dibentuk oleh potongan opini dan emosi. Publik pada akhirnya berhak tahu konteks yang utuh—bukan sekadar cuplikan yang viral.

