Smart Bricks Lego di CES 2026: Inovasi atau Ancaman?

Smart Bricks Lego di CES 2026: Inovasi atau Ancaman?

Smart Bricks Lego jadi salah satu topik paling ramai dibicarakan dari panggung CES 2026. Lego memperkenalkan bata pintar dengan sensor cahaya dan suara dalam konsep “Smart Play” yang diklaim bisa membuat pengalaman bermain makin interaktif. Namun di balik antusiasme, muncul juga pertanyaan besar: apakah ini terobosan yang memperkaya kreativitas, atau justru membuat imajinasi anak semakin “diarahkan” oleh teknologi?

Apa Itu Smart Bricks Lego?

Secara sederhana, Smart Bricks adalah bata Lego yang dibekali sensor—utamanya sensor cahaya dan suara—untuk merespons lingkungan atau aksi pemain. Dalam demo di CES 2026, bata-bata ini dapat “bereaksi” ketika terkena sorot lampu, mendeteksi bunyi tertentu, atau memicu respons saat berada dalam skenario permainan yang sudah disiapkan.

Lego menyebut pendekatan ini sebagai “Smart Play”: permainan konstruksi yang dipadukan dengan elemen interaktif. Jika sebelumnya interaksi digital biasanya datang dari aplikasi, kini sebagian pengalaman itu “pindah” langsung ke bata.

Fitur Utama yang Jadi Sorotan

Walau detail teknis lengkapnya belum dibuka sepenuhnya, beberapa hal yang menonjol dari konsep Smart Bricks Lego antara lain:

  • Sensor cahaya untuk merespons perubahan terang/gelap atau sorotan lampu.
  • Sensor suara untuk mendeteksi bunyi tertentu (misalnya tepuk tangan, ketukan, atau suara di sekitar).
  • Respons interaktif yang memicu aksi tertentu dalam permainan “Smart Play”.
  • Integrasi skenario (kemungkinan melalui set tematik atau panduan permainan) agar interaksi terasa “bercerita”.

Intinya, Lego mencoba membuat bata tidak hanya pasif sebagai “bahan bangunan”, tetapi juga menjadi “aktor” yang bisa bereaksi.

Kenapa Inovasi Ini Dipuji?

Di kubu pendukung, Smart Bricks Lego dilihat sebagai langkah evolusi yang wajar. Dunia anak-anak saat ini memang akrab dengan teknologi, dan Lego mencoba menjembatani permainan fisik dengan pengalaman interaktif yang biasanya hanya ditemukan di layar.

1) Membuat permainan lebih hidup

Dengan sensor cahaya dan suara, anak bisa menciptakan adegan yang terasa nyata: misalnya alarm yang aktif saat ruangan gelap, atau “pintu rahasia” yang terbuka ketika terdengar kode suara.

2) Mendorong eksplorasi sebab-akibat

Interaksi berbasis sensor memperkenalkan konsep sederhana seperti input–output: ada rangsangan, ada respons. Ini bisa membantu anak memahami logika dasar secara menyenangkan.

3) Potensi penggunaan edukatif

Jika dikembangkan dengan baik, Smart Play dapat masuk ke ranah STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) tanpa terasa seperti pelajaran formal. Anak membangun, bereksperimen, lalu melihat hasilnya secara langsung.

Kritik: Inovasi atau Ancaman Imajinasi?

Namun, seperti banyak inovasi “mainan pintar”, Smart Bricks Lego juga memantik kritik. Sejumlah pengamat menilai ada risiko permainan menjadi terlalu diarahkan oleh sistem, bukan oleh imajinasi pemain.

1) Permainan bisa jadi lebih “scripted”

Jika pengalaman terbaik Smart Play bergantung pada skenario tertentu, anak bisa terdorong mengikuti “alur” yang disediakan pabrikan. Padahal kekuatan Lego selama ini adalah kebebasan membangun apa pun tanpa batas.

2) Risiko distraksi dan ketergantungan fitur

Anak bisa lebih fokus mengejar respons sensor (bunyi/reaksi) daripada proses konstruksi dan cerita yang mereka ciptakan sendiri. Pada titik tertentu, bata “yang tidak bereaksi” bisa dianggap kurang menarik.

3) Kekhawatiran soal daya tahan dan aksesibilitas

Mainan fisik identik dengan ketangguhan. Ketika bata diberi komponen pintar, muncul pertanyaan baru: sekuat apa untuk jatuh, terkena air, atau dipakai bertahun-tahun? Lalu ada juga isu harga—apakah ini membuat Lego semakin eksklusif?

Dampak Smart Bricks Lego untuk Orang Tua dan Anak

Buat orang tua, kuncinya ada pada cara penggunaan. Smart Bricks Lego bisa menjadi alat kreatif yang hebat jika dipakai sebagai “bumbu”, bukan “pengganti” kreativitas.

  • Untuk anak yang suka cerita: sensor bisa memperkaya roleplay (misalnya efek suasana, tantangan, atau kejutan).
  • Untuk anak yang suka teknologi: bisa menjadi pintu masuk memahami konsep sederhana tentang sensor dan interaksi.
  • Untuk anak yang mudah terdistraksi: perlu pendampingan agar fokus tetap pada proses membangun, bukan sekadar efek.

Di sisi lain, set Lego klasik tetap relevan. Smart Bricks tidak harus menggantikan bata biasa—idealnya, ia menjadi opsi tambahan.

Apa yang Perlu Ditunggu Setelah CES 2026?

Karena masih dalam fase perkenalan, ada beberapa hal yang publik kemungkinan tunggu dari Lego setelah demo CES 2026:

  • Detail teknis dan kompatibilitas: apakah Smart Bricks bisa dipakai lintas set dan tetap cocok dengan Lego standar?
  • Model permainan: apakah lebih bebas (open-ended) atau berbasis misi/skenario?
  • Harga dan ketersediaan: apakah hanya ada di set premium atau akan meluas?
  • Privasi dan keamanan: jika ada integrasi aplikasi, bagaimana data anak dikelola?

Kesimpulan: Inovasi yang Menantang Cara Kita Memaknai “Bermain”

Smart Bricks Lego menunjukkan bahwa Lego tidak ingin ketinggalan arus teknologi. Sensor cahaya dan suara membuka peluang pengalaman bermain yang lebih imersif, edukatif, dan modern. Namun, kritik tentang potensi permainan yang terlalu terarah juga masuk akal—apalagi jika “Smart Play” lebih menonjolkan efek daripada ruang imajinasi.

Pada akhirnya, apakah Smart Bricks Lego menjadi inovasi canggih atau ancaman imajinasi akan sangat bergantung pada desain produknya dan cara keluarga memanfaatkannya. Jika Lego mampu menjaga DNA utama—kebebasan membangun dan bercerita—bata pintar ini bisa menjadi tambahan yang memperkaya, bukan menggantikan, kreativitas.