Tradisi Buk-Buk Teng kembali digelar warga Dukuh Gupit, Desa Bulu Lor, Kecamatan Jambon, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur. Tradisi ini mencuri perhatian lantaran dilakukan di kawasan yang oleh warga setempat dikenal sebagai area keramat, beriringan dengan kabar yang beredar soal misteri hilangnya seorang pelajar di wilayah tersebut.
Di tengah suasana desa yang biasanya tenang, bunyi-bunyian khas dari peralatan sederhana dipukul berirama menjadi penanda kegiatan yang tak sekadar seremonial. Bagi masyarakat Dukuh Gupit, buk-buk teng adalah bagian dari warisan budaya lokal yang masih dirawat—bukan hanya untuk “ramai-ramai”, tetapi juga sebagai simbol kebersamaan dan ikhtiar batin menghadapi situasi yang membuat warga gelisah.
Apa Itu Tradisi Buk-Buk Teng?
Secara sederhana, buk-buk teng dikenal sebagai tradisi warga yang dilakukan dengan membuat bunyi-bunyian ritmis menggunakan alat-alat yang ada di sekitar rumah. Irama “buk-buk” dan “teng” biasanya muncul dari pukulan pada benda-benda tertentu yang menghasilkan suara berbeda.
Di banyak daerah di Jawa, tradisi bunyi-bunyian semacam ini kerap diasosiasikan dengan bentuk komunikasi sosial, penanda adanya peristiwa penting, atau bagian dari ritual tolak bala. Di Dukuh Gupit, tradisi ini punya konteks lokal yang kuat karena pelaksanaannya sering dikaitkan dengan tempat tertentu yang dianggap memiliki nilai sejarah dan spiritual oleh masyarakat.
Kenapa Dilakukan di Kawasan yang Dianggap Keramat?
Warga setempat menyebut ada titik-titik di sekitar dukuh yang dipercaya memiliki “tuah” atau nilai keramat. Kepercayaan semacam ini biasanya tumbuh dari cerita turun-temurun: bisa terkait tokoh masa lalu, petilasan, atau kejadian tertentu yang dianggap di luar kebiasaan.
Dalam kerangka budaya Jawa, penghormatan pada tempat-tempat semacam itu bukan selalu berarti klenik. Banyak warga memaknainya sebagai cara menjaga tata krama terhadap alam dan sejarah lokal. Tradisi buk-buk teng di lokasi tersebut pun sering dipahami sebagai bentuk doa kolektif dan penguatan solidaritas.
Benang Merah dengan Misteri Hilangnya Pelajar
Nama buk-buk teng kemudian ikut disebut-sebut bersamaan dengan kabar hilangnya seorang pelajar. Informasi yang beredar di masyarakat membuat sebagian warga merasa perlu melakukan ikhtiar tambahan—baik secara sosial maupun spiritual—seiring upaya pencarian dan harapan agar situasi segera menemukan titik terang.
Perlu digarisbawahi, tradisi ini pada dasarnya merupakan agenda warga yang berakar pada kebiasaan lokal. Namun, dalam kondisi tertentu—misalnya ketika masyarakat sedang dilanda kekhawatiran—tradisi budaya sering mendapatkan makna baru: sebagai sarana menenangkan batin, memperkuat doa bersama, sekaligus mengkonsolidasikan warga agar tetap saling menjaga.
Warga Mengutamakan Kebersamaan
Di dukuh kecil, kabar orang hilang biasanya cepat menyebar dan memantik kepedulian kolektif. Buk-buk teng pada akhirnya menjadi momentum berkumpulnya warga, saling bertukar informasi, memastikan koordinasi, dan menjaga suasana tetap kondusif agar pencarian tidak terganggu oleh isu simpang siur.
- Solidaritas sosial: warga berkumpul dan saling menguatkan.
- Kontrol informasi: obrolan warga bisa menjadi ruang klarifikasi kabar.
- Rasa aman: kehadiran banyak orang di titik tertentu membuat warga merasa lebih tenang.
Tradisi Lokal di Ponorogo yang Masih Bertahan
Ponorogo dikenal sebagai daerah yang kaya tradisi, dari kesenian sampai ritual kampung. Buk-buk teng menunjukkan bagaimana tradisi tidak selalu hadir dalam bentuk panggung besar; kadang justru hidup dalam aktivitas sederhana yang diwariskan dan dijalankan dengan rasa percaya.
Di era modern, tradisi seperti ini kerap dianggap “unik” dan mengundang rasa ingin tahu. Namun bagi pelaku budaya, nilai utamanya justru pada kesinambungan: warga merasa punya akar, punya identitas, dan punya cara khas untuk menanggapi situasi yang memengaruhi kehidupan bersama.
Antara Budaya dan Kehati-hatian
Ketika sebuah tradisi dilakukan beriringan dengan peristiwa yang menyita perhatian—seperti hilangnya pelajar—muncul potensi tafsir liar. Karena itu, sikap paling bijak adalah membedakan mana fakta, mana dugaan, dan mana ekspresi budaya.
Warga bisa tetap melestarikan tradisi buk-buk teng sebagai bagian dari kearifan lokal, sambil tetap mengedepankan langkah rasional: melapor ke pihak berwenang, mendukung pencarian sesuai prosedur, serta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Penutup
Tradisi Buk-Buk Teng di Dukuh Gupit, Jambon, Ponorogo, kembali memperlihatkan bagaimana budaya lokal dapat menjadi perekat sosial, terutama saat masyarakat menghadapi situasi yang membuat cemas. Di tengah misteri hilangnya pelajar yang masih menjadi perhatian, tradisi ini hadir sebagai simbol kebersamaan—doa yang dipanjatkan bersama, dan ikhtiar menjaga harapan agar kabar baik segera datang.
Jika Anda mengikuti perkembangan kasus ini, pastikan merujuk pada informasi resmi dan menghormati ruang duka serta privasi pihak keluarga. Sementara itu, pelestarian tradisi tetap penting, karena di sanalah ingatan kolektif dan identitas kampung terus hidup.

