Wisatawan asing ke Thailand 2025 tercatat menurun dibanding tahun sebelumnya. Data Otoritas Pariwisata Thailand (Tourism Authority of Thailand/TAT) menunjukkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara sepanjang 2025 mencapai 32,9 juta orang, atau turun 7,2 persen dari 2024 yang mencapai 35,32 juta kunjungan.
Angka ini menarik perhatian karena Thailand selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu destinasi paling ramai di Asia. Penurunan tersebut bukan berarti industri pariwisata Thailand “jatuh”, tetapi menjadi sinyal bahwa ada dinamika baru: mulai dari kondisi ekonomi global, pola perjalanan wisatawan, hingga kompetisi destinasi di kawasan.
Gambaran Data Kunjungan Wisatawan Thailand 2024 vs 2025
Berdasarkan data yang dirilis TAT, tren 2025 menunjukkan penurunan jumlah turis asing jika dibandingkan dengan performa 2024. Secara ringkas:
- 2024: 35,32 juta wisatawan asing
- 2025: 32,9 juta wisatawan asing
- Perubahan: turun 7,2 persen
Secara nominal, selisihnya sekitar 2,42 juta kunjungan. Dalam skala pariwisata nasional, angka ini cukup besar karena berpengaruh pada tingkat okupansi hotel, pendapatan pelaku wisata, hingga aktivitas ekonomi di daerah tujuan populer.
Mengapa Penurunan Wisatawan Asing Bisa Terjadi?
Meski data ringkas tidak memaparkan penyebab spesifik, penurunan jumlah wisatawan asing biasanya dipengaruhi kombinasi faktor. Berikut beberapa kemungkinan yang sering menjadi pemicu di banyak negara tujuan wisata, termasuk Thailand.
1) Kondisi ekonomi dan daya beli wisatawan
Ketika ekonomi global melambat atau biaya hidup meningkat, sebagian orang akan menunda liburan atau memilih perjalanan yang lebih dekat, lebih singkat, dan lebih hemat. Dampaknya, destinasi internasional bisa mengalami pelemahan permintaan, khususnya pada segmen wisata massal.
2) Harga tiket dan biaya perjalanan
Harga tiket pesawat, biaya akomodasi, serta kurs mata uang dapat memengaruhi keputusan wisatawan. Jika biaya menuju Thailand relatif lebih mahal dibanding tahun sebelumnya atau kalah kompetitif dibanding destinasi lain, angka kunjungan bisa terkoreksi.
3) Persaingan destinasi di Asia Tenggara
Asia Tenggara menawarkan banyak alternatif yang sama-sama menarik—mulai dari pantai, wisata budaya, kuliner, hingga city trip. Negara-negara tetangga bisa menjadi pilihan jika menawarkan promo, akses penerbangan yang lebih nyaman, atau kebijakan visa yang lebih memudahkan.
4) Perubahan tren dan preferensi wisata
Pola wisata terus berubah. Sebagian pelancong kini mencari pengalaman yang lebih personal seperti wisata wellness, slow travel, atau perjalanan berbasis komunitas dan alam. Destinasi yang cepat beradaptasi dengan tren ini biasanya lebih mudah mempertahankan pertumbuhan kunjungan.
Dampak Penurunan Kunjungan bagi Industri Pariwisata Thailand
Turunnya jumlah wisatawan asing tidak selalu berarti pendapatan pariwisata ikut turun dengan proporsi yang sama. Namun, efeknya tetap terasa di beberapa aspek berikut:
- Okupansi hotel di area wisata utama dapat menurun, terutama di low season.
- Pelaku UMKM wisata seperti pedagang, pemandu tur, dan transportasi lokal berpotensi mengalami penurunan transaksi.
- Maskapai dan rute penerbangan bisa menyesuaikan frekuensi jika permintaan melemah.
- Strategi promosi TAT dan pelaku industri kemungkinan akan bergeser: lebih agresif dalam kampanye, diskon, dan paket bundling.
Di sisi lain, penurunan volume bisa mendorong pendekatan yang lebih berkelanjutan (sustainable tourism). Beberapa destinasi justru memanfaatkan momentum untuk mengurangi overtourism, memperbaiki infrastruktur, dan meningkatkan kualitas pengalaman wisata.
Apa yang Bisa Dilakukan Wisatawan yang Tetap Ingin ke Thailand?
Bagi wisatawan dari Indonesia maupun negara lain yang tetap ingin liburan ke Thailand, kondisi seperti ini justru bisa membawa keuntungan tersendiri. Dengan permintaan yang sedikit melunak, peluang mendapatkan harga lebih kompetitif bisa meningkat, terutama untuk tiket pesawat dan hotel.
Tips singkat merencanakan perjalanan
- Pantau promo penerbangan dan bandingkan beberapa tanggal keberangkatan.
- Pilih jam terbang yang fleksibel untuk menemukan harga terbaik.
- Booking lebih awal untuk musim ramai (peak season), tetapi pertimbangkan last-minute deal untuk low season.
- Eksplor destinasi alternatif selain Bangkok dan Phuket, misalnya kota-kota yang lebih tenang agar pengalaman lebih autentik.
Prospek Kunjungan Wisatawan Thailand Setelah 2025
Pariwisata bersifat siklikal dan sangat dipengaruhi situasi eksternal. Meski wisatawan asing ke Thailand 2025 turun 7,2 persen, Thailand tetap memiliki modal kuat: brand destinasi yang sudah mendunia, konektivitas penerbangan yang luas, serta ragam atraksi mulai dari budaya, belanja, kuliner, hingga wisata pantai.
Jika strategi promosi, kemudahan perjalanan, dan penyesuaian produk wisata berjalan efektif, tidak menutup kemungkinan angka kunjungan kembali meningkat pada periode berikutnya. Untuk saat ini, data TAT menjadi pengingat penting bahwa industri pariwisata perlu terus adaptif menghadapi perubahan tren dan perilaku wisatawan.

